Monday, January 22, 2018

Madzab Baru

Saya yakin sampeyan mesti pernah berinteraksi dengan seseorang yang menganut madzab diet makanan berdasarkan golongan darah. Efektifkah? Embuh... gak eruh 😅. Penganut paham ini berkeyakinan bahwa ada keterkaitan antara sistem pencernaan dalam tubuh dengan golongan darah yang men-supply-nya. Argumentasi-nya adalah masing-masing golongan darah akan mempunyai response yang berbeda untuk input asupan makanan yang sama struktur nutrisi-nya. Make sense khan? Iyalah... wis manut ae...


Saya mengambil contoh Protein. Dari studi yang dilakukan, ternyata source protein dari orang yang bergolongan darah A akan lebih baik jika berasal dari nabati (bukan hewani). Sebaliknya, mereka yang bergolongan darah O, sumber protein-nya akan lebih baik jika berasal dari hewani. Nah.. kalau sampeyan bergolongan darah A dan mempunyai hobby makan daging Steak, maka saya sarankan untuk segera mengatur strategi baru dalam menu makanan. Hehehehe ...kapok mu kapan... 😊😋

Sering kita tidak sadar bahwa selain air, protein adalah zat yang banyak ditemui hampir di seluruh cell di tubuh kita. Protein berfungsi sebagai source untuk repair, maintenance, transportation, storage, dan penghasil energy tubuh kita. Bahkan, Protein merupakan source untuk menghasilkan hormon dimana hormon inilah yang menjadikan media komunikasi antar organ dalam tubuh kita.

Karena terlibat dalam proses yang vital dan daily, makanya Protein ini perlu diganti secara rutin dengan cara mengkonsumsi makanan yang memang memberikan source protein. Makanan yang sesuai dengan sistem jaringan tubuh kita menjadi sangat penting. Salah satu kharakter jaringan tubuh ditentukan oleh golongan darah kita. Kurang lebih begitulah NARASI cerita pendek-nya. Kalau mau versi panjangnya silahkah berselancar di mbah Google.


Wednesday, May 17, 2017

Menuju Peradaban

Saya sangat yakin bahwa seorang yang pernah terjun langsung di lapangan, akan mampu bercerita lebih baik dan "lebih menantang" ketimbang 1000 orang ahli yang hanya berkutat dengan analisa di atas kertas saja. Siapapun mereka yang pernah bersinggungan langsung dengan stakeholder-nya, akan memberikan gambaran permasalahan yang ada menjadi lebih mudah, lebih utuh dan lebih hidup. Iya to? Itulah sunatulloh dalam bermasyarakat agar saling mengenal satu dengan yang lain. 

Makanya, kalau sampeyan menjadi seorang pejabat, maka bersiaplah untuk mengenal stakeholder sampeyan. Bersiaplah untuk menyediakan waktu dan tenaga buat mereka. Siapapun pejabat yang mampu mem-bumi dengan masyarakat, akan sangat membantu menentukan kebijakan yang tepat sasaran khususnya yang menyangkut keadilan sosial. Dengan pernah terjun ke lapangan secara langsung akan memberikan nilai lebih, ketika sampeyan harus fight untuk membela kesejahteraan rakyat bangsa ini.

Ada baiknya sampeyan sering sering berkunjung ke daerah bukan hanya sekedar melihat kemegahan airport-nya, tetapi juga untuk melihat potensi sumber daya alam yang ada secara langsung di daerah tersebut.

Ada baiknya sampeyan sering sering ikut mandi di sungai yang berkelok di negeri ini, supaya sampeyan paham sekali betapa keberadaan air bersih sangat diperlukan oleh saudara-saudara kita ini.

Thursday, May 11, 2017

Membaca Bahasa Media


Saya sudah sering sampaikan ke sampeyan semua, “Jangan terlalu percaya dengan apa yang diberitakan oleh media sosial. Keadaan yang sebenarnya bisa jadi jauh melenceng dari apa yang diberitakan. Bahkan, lebih bengis lagi, kalau isinya “sengaja” untuk mengalihkan isu yang sebenarnya terjadi.” Betul?  Bukan rahasia lagi, kalau sekarang banyak media sosial menjadikan dirinya “The Hitman”, untuk kasus-kasus tertentu sesuai pesanan. Tergantung dengan dealnya, “Wani piro?”

Kalau kita sudah tidak mampu lagi mengontrol keakuratan isi berita dari media sosial, maka yang harus kita benahi adalah sistem alarm yang terletak di nurani dan hati kita. Dua piranti itu setiap saat harus ON, untuk meyakinkan semua berita yang masuk dalam otak kita dapat tersaring dengan baik. Dua piranti yang saling cross-check. 

Mengapa ini menjadi penting? Mohon maaf, saya harus katakan bahwa masyarakat kita ini belum terlalu siap dengan teknologi Whatsapp (WA) atau sejenisnya.  “Membaca dengan seksama” bukanlah kebiasaan masyarakat kita. Budaya kita masih membaca yang leterleg apa yang tertulis, tanpa melihat “Apa sih maunya si penulis yang sebenarnya?”.