Wednesday, October 01, 2014

Anak Wedhok

Saya tulis ini dari jarak ribuan miles sambil menunggu si burung besi terbang. Entah mengapa, tiba-tiba saya teringat akan Genduk saya ini. Transit 4 jam di Singapore telah membawa lamunan saya ke anak wedhok cantik ini.

Masih segar dalam ingatan bahwa saya harus menggunakan naluri saya sebagai seorang laki-laki untuk menahan laju perkembangan cara berpikir dia. Bukan karena dia seorang anak perempuan. Bukan, sama sekali bukan. Saya melakukannya lebih disebabkan karena kepentingan hirarki dalam keluarga. Sebuah dilema hidup yang pernah ada, dimana saya harus memilih dengan segala konsekuensinya.

Dari awal, saya sudah melihat kelebihan dia yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya. Bahkan, dia bukan tandingan yang sepadan kalau harus saya adu "head-to-head" dengan saudaranya laki-laki. Substantially, dari kerangka berpikir yang jernih dan logis, dia mampu menunjukan kelas yang jauh di atas mereka yang nota bene laki-laki. Dan itu sudah terbukti. Kalau saja Rem (Brake) itu tidak pernah saya pasang dengan baik, bukan hal yang tidak mungkin bagi dia untuk take over dinasti keluarga ini. Which is sesuatu yang sah sah saja. Iya to?


Tuesday, August 26, 2014

Memilih Presiden (ala Cak Nun)

Hari Sabtu kemarin saya sempatkan untuk mendengar keluh kesah tentang PEMILU di negeri ini dari teman-teman di kampung. Bisa jadi, sampeyan sudah pernah membaca tulisan ini. Sengaja saya comotkan tulisan EMHA ini dan sisipkan dalam blog celometan ini, untuk meminta kata "Aamiin" ketika sampeyan selesai membacanya.  Peace dan salam tiga jari :-) Wallohualam (Prahoro Nurtjahyo, Selasa 26 Agustus 2014)
===========================
Essai:  Emha Ainun Nadjib (21 Maret 2014)
Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak. 
Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.


Friday, June 27, 2014

Ramadhan vs Pesta Demokrasi

Dua kali saya diberi kesempatan untuk dapat memulai hari pertama Ramadhan di tanah air. Tepatnya di Jakarta. Yang nota bene justeru bukan tanah kelahiran saya. Tapi memang begitulah, semakin mantap keyakinan saya bahwa setiap gerak manusia sudah ada yang mengaturnya. Bahkan, seberapapun njlimet rencana yang disusun, plus segudang mitigasi plan yang dipersiapkan, Allah Yang Maha Berkehendak atas semua tetek bengek rencana manusia tadi. Subhanalloh.

Tahun ini, saya sudah noto mening-mening (baca: carefully plan) dengan istri dan anak-anak bahwa bulan puasa tahun ini, kami akan fokuskan di Masjid kampung dekat rumah. Sudah terbayang, sholat Tarawih yang panjang dan berakhir pukul 12 malam, suasana 10 malam hari terakhir iktikaf "camping" di Masjid, iftar keroyokan, dan lain-lain.

Walhasil, hari ini saya mendarat di Bandara Internasional Cengkareng Sukarno Hatta. Perubahan rencana yang benar-benar diluar dugaan saya.

Bisa jadi saya yang salah, tetapi beberapa event kejadian kecil kehadiran hari pertama di Jakarta, cukup meyakinkan saya bahwa kota ini tidak siap untuk menyongsong bulan suci ini. Tentu, perbandingan saya adalah dengan kampung kecil dimana saya tinggal sekarang, Katy. Lha iya to? Ada lomba Azan, Speech, Sodaqoh, learning Fiqh, Seerah Nabawiyah, dll.