Friday, May 22, 2009

Siapa Pemilik Tanah Warisan ini?

Indera pendengaran saya jauh lebih cepat mengenal karya SH Mintardja “Nagasasra dan Sabuk Inten” ketimbang indera penglihatan saya (dalam hal membaca). Kisah heroic dengan setting cerita masuknya Islam ke tanah Jawa ini saya kenal pertama kali melalui sandiwara radio pada awal tahun 1980an. Kisah pergeseran kekuasaan dari Kesultanan Kudus ke Pajang dengan segala bumbu penyedapnya.


Pada masa-masa itu (1980an), sandiwara radio adalah salah satu hiburan favorite yang dapat menyatukan alam imajinasi antar keluarga, teman sekolah, teman sepermainan yang ada di kampung kami. (Fenomena semacam ini kembali muncul di masyarakat kita ketika demam Telenovela Maria Mercedes melanda Indonesia di awal tahun 1990an.)

Karena “kerinduan” yang dalam akan beberapa tokoh pada cerita itulah, maka saya niatkan untuk membaca ulang karya Kyai Mintardja ini (171 episode) dan katam pada akhir tahun 2000. Saya ingat betul tahunnya, lha wong pada saat itu saya lagi pening-pening nya ngerjain riset. Maka buku fiksi inilah salah satu teman pelarian saya kalau semua journal penelitian nggak ada yang masuk ke otak. Buthek!

Friday, November 21, 2008

Indonesia dan Keluarga Saya

Regardless apa kata orang tentang bumi pertiwi baik dari sisi indahnya maupun sisi gelapnya, akhirnya kami jajal juga perjalanan panjang 36 jam dari Houston ke Surabaya pada Summer 2008 yang lalu.

Menjadi tanggung jawab moral kami sebagai orang tua untuk menunjukan ke anak-anak kami, bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka berasal dari percikan air yang bersumber di belahan bumi Nusantara.

Alhamdulillah, akhirnya mereka mengenal dari dekat dunia orang tuanya. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mulai merasa menjadi bagian dari kampung ini. Apalagi, kepulangan kami ini setelah 12 tahun belum pernah menginjak tanah air tercinta. Ada was-was, tentu. Tetapi ternyata was-was itu berubah menjadi perasaan lega, karena dengan mudah anak-anak berbaur dengan saudara sepupunya di Indonesia.

================================================

Ini dia...tiga anak yang kelak saya akan diminta pertanggungjawaban dari yang memberikan titipan. Mohon doa restu dari sampeyan semua.... semoga mereka tumbuh dengan sehat dan menjadi anak-anak sholeh dan sholehah. Amin ya rabbal alamin.

Chinta, Bisma dan Deva dengan pakaian khas Jawa-Timur an

Borobudur and us


Naik becak di Yogjakarta

Our First Big Family Reunion 2008 (PTPN XII Malang, East Java)

Chinta in action

Ojob in action

This (Coban Rondo) is comparable with Niagara Falls (sort of speaking :-))

Thursday, September 11, 2008

Mari Berbagi Doa

Ketika tulisan ini saya kirim, saya masih belum tahu apakah harus evakuasi atau tidak dari Houston. Yang jelas banyak sekali pertimbangannya dan mostly bukan karena materi yang ditinggalkan ketika harus evakuasi, melainkan membayangkan betapa ribet dengan kemacetan yang akan terjadi di mana-mana.

Comfort Zone yang mulai terkikis bukan hanya disebabkan karena kehilangan materi saja. Akan tetapi saya melihat sekarang ini adanya trend pergeseran value di masyarakat ini, dimana persyaratan untuk mutualism tolong menolong tidak lagi didasarkan karena ketulusan belaka. Tulus bukan lagi syarat yang cukup. Hampir perbuatan yang terlihat sebagai bentuk kebajikan, selalu dibarengi dengan perasaan was-was "E jangan jangan ....". Mau level comfort yang bagaimana lagi?

Always take the bright side. Hurricane Katrina (Agustus 2005) di Lousiana adalah tauladan yang baik bukan hanya untuk warga di Lousiana saja, tetapi juga kepada warga yang lain. Untuk warga Houston, misalnya, dampak Katrina bukan hanya terlihat secara fisik dari pengungsian warga dari New Orleans ke Houston, tetapi aftermath sosial kehidupan warga Houston akibat bencana ini telah berubah dan terbekas cukup dalam hingga sekarang.