Monday, August 16, 2010

Maaf… Atas kelancangan Saya


Saya sengaja menyisipkan tulisan ini diawal minggu, karena saya harus mengejar honor tambahan setoran yang due date-nya hari Minggu 22 Agustus 2010.  Lebih dari itu, saya akan menjadi sangat kecewa kalau ternyata jatah yang seharusnya masuk ke kantong saya di akherat kelak akan berkurang karena saya telat melakukannya hari ini. Dan sebelum kekecewaan itu benar-benar terjadi, maka tulisan inipun harus segera saya munculkan. It’s worth it to spend time to write it than let it goes as we will get nothing later on.

Saya akan memulai tulisan ini dengan pernyataan, “Ketika TIDAK ADA, kita bersusah payah untuk menjadikannya ADA. Ketika Alloh sudah memberikan ijin-Nya menjadi ADA, maka adalah kewajiban kita untuk menjaganya agar tidak kembali menjadi TIDAK ADA”.  Bingung? Baca lagi pelan-pelan.....

Adalah diawal tahun 2008 dimana itulah pertama kali saya bersinggungan dengan Masjid MAS Katy Center. Tepatnya di akhir Quarter pertama tahun 2008.


Wallohi, Demi Alloh, hanya karena ijin Alloh saya akhirnya “terdampar” dan dapat mengenal masjid ini lebih awal daripada sampeyan-sampeyan. Sangat ironis karena saya tinggal di daerah ini sejak Juli 2005, dan baru awal tahun 2008 saya mengetahui kalau ternyata ada Masjid yang letaknya kurang dari 1 mile dari tempat tinggal saya. Dari sekian perjalanan hidup saya, inilah salah satu moment yang akan selalu saya ingat, bahwa ridlo Alloh adalah harapan dari setiap makhlukNya.

Masjid MAS Katy Center dibangun di atas tanah seluas hampir 11 acres. Beralamatkan di 1800 Baker Rd, 77094, masjid ini mempunyai history yang tak kalah menariknya untuk diketahui. (Cerita masjid ini di lain article aja ya… panjang ceritanya nanti…. J)

Bulan April 2008, suatu malam selepas sholat Isha, berdua dengan sohib lama, saudara seperantauan, Arcandra Tahar, kami berkesempatan dialog langsung dengan Syeikh Main Al Qudha (Imam Masjid MAS Katy Center) dan meminta untuk dapat menggunakan fasilitas Masjid khusus pada hari Sabtu dari pukul 10:00 pagi sampai dengan pukul 13:00 siang. Dengan mempresentasikan kegiatan yang akan kami lakukan, Alhamdulillah, Syeikh memberikan lampu hijau dengan reminder bahwa kegiatan selama di Masjid harus mengikuti etika/norma yang sesuai dengan tuntunan Islam. Misalnya, bagi perempuan selayaknya memakai hijab atau kerudung menutupi kepala ketika berada di Masjid.

Waktu terus berjalan. Memang begitulah Sunatulloh. Kegiatan setiap hari Sabtu masih terus berlangsung hingga hari ini. Memasuki tahun kelima, dapat sampeyan bayangkan, kegiatan belajar membaca Al-Quran hari Sabtu yang semula dari Musholla, terus pindah “dari rumah ke rumah”, kemudian pindah lagi ke “Rumah-Masjid” (fisiknya rumah biasa yang difungsikan sebagai Masjid), sampai sekarang pindah ke ”Masjid Trailer”.  
Subhanalloh. Sungguh kalau Alloh sudah berkehendak, maka hanya dengan Kun Fayakun. Terkadang manusia ini yang terlambat untuk bersyukur dan sadar bahwa inilah yang terbaik yang sudah dipilihkan oleh Alloh untuk kita. Kitanya yang sering berkilah, “Justeru yang nikmat dalam mensyukuri hidup ini adalah karena jalannya yang harus muter-muter dulu untuk mengetahui nikmatNya…” Walah mbelgedes….  Gombal..

Ucapan Alhamdulillah barangkali masih belum cukup meskipun kita ber-ramai-ramai melafalkannya setiap hari atas nikmat-Nya dan anugerah-Nya yang sudah dilimpahkan kepada kita. Imagine, kita memakai fasilitas cuma-cuma untuk bersilatrohim bersama (mengaji Al-Quran dan belajar tentang Islam) dilengkapi dengan fasilitas listrik, restroom, full AC, Kulkas, Kitchen, dan Fasilitas Olah raga. Subhanalloh.

Sebagai manusia yang berakal, tentunya kita sadar, bahwa semua fasilitas di atas harus di-maintain setiap bulannya. Saya haqul yakin, tagihan listrik tidak akan menjadi lunas hanya dengan bacaan Surat Al-Fatihah. Karena memang pada hakekatnya Surat Al-Fatihah diturunkan bukan untuk membayar tagihan listrik. Iya To? Begitu juga dengan Mortgate tanah, tentu tidak akan lunas meskipun semua jamaah Masjidnya sudah dzikir sehari semalam tanpa mengeluarkan kocek dollar untuk membayar tagihan per bulannya. Iya khan? Nalar kita dong yang harus bicara kalau sudah berurusan dengan physical uang.

Biaya operasional untuk Masjid sebesar MAS Katy Center adalah berkisar antara USD 10000 – 20000 per bulan. Dana sebesar ini termasuk untuk mempercepat pembayaran Mortgate tanah, biaya rekening utility (listrik, air, gas, telepon), pengembalian pinjaman pembangunan masjid, madrasah, on going project, dan lain-lain. Detail informasi dapat sampeyan peroleh melalui pihak Masjid yang terkait. (Saya tidak tahu pasti angkanya, tetapi saya pernah mendengar dari Dr. Hamed Gazhali, yang Insha Alloh informasi dari beliau benar adanya bahwa rata-rata pengeluaran untuk biaya operasional per bulan Masjid ini adalah berkisar USD 15000 – Lima Belas Ribu US Dollar).

Meskipun pihak Masjid tidak pernah meminta iuran kepada setiap penggunanya, maka sudah menjadi kesepakatan bawah sadar, “seharusnya” yang memakai fasilitas juga memberikan andil dimana paling tidak dapat meringankan beban operasional per bulannya. Lha wong sesama manusia saja lho, kita ini melakukan hitung-hitungan sampai njlimet dengan dalih “ini urusan bisnis”, lha apalagi ini bisnisnya deal dengan rumah Alloh. Bukankah logikanya iuran pembayarannya harus lebih besar karena untuk oksigen yang kita hirup sudah di-gratis-kan oleh Alloh. Iya apa iya?

Dengan dasar pemikiran ini, maka setiap donasi/iuran atau apapun istilahnya, yang masuk dari sampeyan semua, kita sisihkan untuk kas Masjid. Mudah-mudahan sampeyan ridlo dengan cara ini dan mari berdoa bersama semoga Alloh pun ridlo dengan cara yang kita gunakan ini. Insha Alloh ini halal, sehingga apa yang sudah kita lakukan hari ini, akan memberikan dampak yang baik untuk keluarga kita dan anak-anak kita di masa depan. Amin.

Adalah ancang-ancang yang terlalu ambisius kalau komuniti kita “memaksakan diri” untuk menutup biaya operasioanl yang US 15000 per bulan itu. Bukannya tidak mungkin, tetapi saya ingin lebih rasional untuk melihatnya. Bukan berarti underestimate dengan kemampuan sampeyan-sampeyan semua, tetapi saya menganut Madzab, biarlah kecil tetapi berkelanjutan ketimbang sekali besar namun setelah itu mandeg.

Untuk ukuran masyarakat kita, mungkin 10% dari biaya itu dapat kita tanggung ramai-ramai. Kalau kita dengan 15 keluarga saja yang commit, artinya per bulan dari masing-masing keluarga rata-rata akan menyisihkan sedekah sebesar US 100. Sebuah angka yang tidak lebih banyak dari setiap kali makan di restaurant pada saat weekend. Iya apa iya?

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah kontribusi ini Insha Alloh akan menjadikan kita merasa lebih memiliki dan lebih peduli akan keberadaan dan keberlangsungan Masjid ini.

Beberapa dari kita, Alhamdulillah, sudah memulainya. Tidak harus dengan angka yang sama. Tidak harus mengatasnamakan komuniti Indonesia atau Malaysia. Tidak harus janjian memasukan ke kencleng barengan. Tidak harus start dari waktu yang sama. Yang pasti ada persamaan view di antara kita bahwa segala fasilitas yang ada ini (Fasilitas Gedung, tanah, parkir, utility, dll) memerlukan kita untuk menjaga kelanggengannya. Yup...  Coba sampeyan bayangkan, ketika semua dari kita tidak peduli lagi, bukan tidak mungkin semua fasilitas yang ada saat ini kembali semula – menjadi TIDAK ADA.

Kalau sampeyan bertanya kepada saya kapan ya enaknya kita memulai, tentunya bulan Ramadan ini adalah waktu yang cocok untuk meluruskan niat dan segera merealisasikannya.  Wallohualam bisowab (Prahoro Nurtjahyo, 16 Agustus 2010)

No comments: