Wednesday, May 20, 2015

Berkaca Dari Masa Lalu

Setiap peristiwa yang terjadi selalu didahului oleh suatu sebab. Kata “sebab” umumnya terjadi karena perbedaan cara memandang dan menyikapi. Komunikasi yang tidak utuh adalah kontribusi utama yang menjadikan permasalahan yang seharusnya simple menjadi complicated dan ruwet. Ternyata bentuk komunikasi inilah yang menjadi sumber keresahan yang ada sejak manusia dilahirkan di muka bumi ini.

Ketika Habibie meng-komunikasi-kan segala uneg-uneg nya melalui buku, maka sudah dapat ditebak akan ada yang pro dan con tentang isi dari buku itu.  Selama masyarakat kita mampu mengartikan bahwa informasi yang ada di buku itu adalah sisi pandang si Habibie, tentunya masalahnya selesai di situ. Iya to? Jangan sampai, tulisan itu (yang masih berupa personal opinion) dijadikan sebagai acuan atau dasar hukum untuk bertindak. Lha modar kowe kalau begitu caranya. Iya khan?

Ketidakberdayaan masyarakat dalam menganalisa sebuah kejadian, sering kali dimanfaatkan oleh beberapa pelaku untuk menghujat atau membenci.  Yang nanti ujung-ujungnya adalah demo.  Padahal belum tentu mereka yang ikut demo itu, tahu persis apa yang dia demo-kan. Nah proses pembelajaran inilah sebenarnya yang menjadi tugas dari para cerdik cendikia untuk terus menyebarluaskan ke semua elemen masyarakat untuk think… think… think… dan tidak mudah ter-provokasi. Mikir !!!

Biarkan Habibie dengan segala ceritanya, biarkan Prabowo dengan counter ceritanya.  Biarkan Jokowi dengan segala blusuk-kannya, biarkan yang anti-Jokowi dengan cercaan-nya. Pasti ada sesuatu yang path-nya akan bersilangan dari cerita mereka berdua. Dari sanalah kita para pembaca, kawula cilik ini, untuk menganalisa kasus per kasus dan akhirnya pada suatu kesimpulan pribadi (masih opini sifatnya) bahwa ternyata si A yang berkata make sense, sementara si B adalah pelawaknya.  Tidak ada dari kita yang tahu sebenarnya apa yang terjadi. Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Alloh SWT.

Mind set yang bebas lepas akan tumbuh menjadi sebuah dogma dan jika ini terus berkembang maka akan berubah menjadi filsafat atau isme-isme yang lain. Makanya kita mengenal Komunisme, Sosialisme, Marxisme, dan lain-lain. Jangan heran sebentar lagi akan muncul Jokowiisme, Prabowoisme J

Sering kita berusaha melupakan masa lalu, padahal dari sanalah kita muncul dan dibesarkan.  Terkadang kita berusaha untuk mengubur masa lalu itu cepat-cepat karena satu dan lain hal, tanpa berusaha melihat value yang sebenarnya ada. Too bad.

Saya ambil contoh perseteruan antara Wali Songo (sembilan wali) dengan Syekh Siti Jenar.  Saya yakin lebih dari 99% masyarakat jawa mempunyai mind set bahwa yang menjadi bintang atau lakon dari kelompok kebaikan adalah para Wali, sementara yang ketiban sial peran menjadi bandit adalah pak Siti Jenar.  Is that true?

Saya mengulas panjang tentang perseteruan para Wali vs. Syekh Siti Jenar ini pada awal tahun 1990an.  Saya melihat banyak sisi lain yang luput dari penglihatan kita.  Kalau benar seorang Wali adalah orang-orang pilihan dimana kedekatan mereka dengan Alloh sangat eratnya, maka sudah menjadi hal yang masuk akal bahwa si Wali harus bersih dari keinginan duniawi, semuanya dilakukan semata-mata karena ibadah kepadaNya, tidak berpihak kepada golongan tertentu dan masih banyak persyaratan  "bersih" lain yang harus mereka miliki. Iya to…? Namanya juga Wali…sudah sekian tingkat di atas levelnya para Kyai. (Wah jadi tambah menarik kalau sudah mengulas tentang Kyai masa kini…).

Sejarah menunjukan betapa para Wali lebih memihak ke  bupati Aryo Penangsang ketimbang Joko Tingkir dalam pertikaian antara Pajang dan Jipang, sebagai cikal bakalnya kerajaan Mataram. Mungkinkah para Wali ini memposisikan diri - bertindak seolah sebagai Nabi Khidir yang kontroversial di mata Nabi Musa? Mungkinkah tindakan para Wali ini sebenarnya sebuah pertanda bahwa berdirinya Mataram justeru akan memberikan banyak mudlorot-nya daripada manfaat-nya?

Maka ketika saya harus menilai mana yang lebih baik, saya akan bilang “jangan beratkan informasi di satu sisi, sudah pasti akan jomplang dan akhirnya membuat saya menjadi tidak lagi obyektif dan muncul preference bukan karena informasi yang sebenarnya tetapi informasi yang satu pihak.

Lenyapnya si Syeikh juga masih menjadi rahasia sampai saat ini. Proses pengadilan itu hanya ada dilakukan oleh mereka ber sepuluh. Inikah keadilan?

Kalau sampeyan punya waktu yang luang, sempatkanlah menonton movie “Jack the Ripper”.  Sebuah movie yang diangkat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Inggris. Film ini panjang durasinya dan pernah ditayangkan di salah satu TV swasta nasional (saya lupa entah di RCTI atau ANTV) pada tahun 1993. Antagonist dan protagonist-nya adalah orang yang sama.  Konflik yang terjadi adalah berbenturan antara value yang harus dipegang dan ketakutan akan dampak sosiologi karena sebuah value. Pada bagian akhir film itu menjadi bukti pembenaran apa yang telah dilakukan oleh si Jack sebagai pemerkosa sekalian pembunuh setiap mangsanya dengan pisaunya. Kasus Jack ini sempat lama terbenam cukup lama, dimana opini masyarakat terselamatkan dan sampai akhirnya muncul versi yang sebenarnya.

Kalau saja kasus si Jack pada saat itu diselesaikan dengan cara carok alias langsung di sikat bleh terus mampus di-announce di public, bisa jadi profesi dokter tidak pernah ada di muka bumi ini. Pertanyaan dasarnya adalah "Haruskah seperti itu solusinya? Tidakkah ada jalan lain yang memberikan solusi yang elegan tanpa mengurangi value yang ada?" Wallohuallam (Prahoro Nurtjahyo, 20 Mei  2015)



1 comment:

Yayat Supriatna said...

Terima kasih pak de Prahoro Bonek atas celometannya, cukup menarik tak panteng terus channelnya