Monday, August 07, 2006

Ketika Saya Harus Menjadi Juri

Judul ini saya pilih berkaitan dengan kejadian yang baru saja saya alami di kampung kami. Ceritanya, dua anak saya ikut belajar mengaji di satu-satunya musholla di kampung kami itu. Kalau meminjam istilah dimana dulu saya dilahirkan, maka anak-anak saya bersama anak-anak lain yang sebaya usianya adalah para santri kecil dari pondok pesantren musholla ini. Yang menjadi Ustad adalah beberapa orang yang diangkat oleh para orang-tua yang mempunyai kemampuan lebih untuk mengajar mengaji.

Dari para Ustad ini, tentu ada Kyai-nya. Nah….. beruntunglah kami para orang tua, karena pak Kyai-nya ini masuk dalam madzab kyai modern. Kenapa modern? Pertama, si Kyai tidak perlu membawa rotan untuk memukul santri-nya yang salah bacaannya. Kedua, dari kaca mata saya melihatnya, sistem yang dipakai oleh pondok yang dipimpin pak Kyai ini relative mampu melibatkan hubungan yang mutual antara si anak dan orang tua. Tugas dari para orang-tua adalah untuk mendampingi anak-anaknya selama proses belajar mengajar ini dilakukan. Harapannya, si orang tua juga tahu, bagian mana yang kurang dan yang perlu ditingkatkan. Selain itu, sebenarnya methoda ini merupakan alat yang ampuh untuk me-refresh memori para orang tua tentang bacaan yang selama ini sudah melekat hampir lebih dari seperempat abad kehidupannya. Paling tidak, untuk sisa kehidupan berikutnya akan lebih benar cara dan pemahamannya.


Seperti halnya sekolah-sekolah yang lain, maka sudah menjadi hal yang jamak, untuk mengukur tingkat pemahaman seorang santri, yang harus dilakukan adalah melakukannya dengan menguji seberapa jauh meningkatnya mulai dari pertama masuk sampai tahapan tertentu. Bukan karena ikut-ikutan, tetapi berkeinginan untuk mereview hasil kerja bareng antara para Ustad, Orang tua dan Santri, maka pondok pesantren kecil inipun melakukan ujian semester. Setelah hampir enam bulan ikut mondok, maka tibalah waktunya untuk mengukur seberapa jauh kesaktian para santri ini dapat menyerap pelajaran dan ajian yang telah diberikan oleh pak Kyai.

Kalau hanya urusan test atau ujian, itu tidak ada masalah. Yang menjadi masalah bagi saya pribadi adalah ketika test itu diadakan, yang menjadi juri adalah para orang tua yang anak-anaknya ikut dalam pondok pesantren musholla ini. Wuallah…cilaka ini. Inilah ketakutan alami yang baru pertama kali saya hadapi dalam hidup. Coba sampeyan pikirkan, saya didaulat untuk menjadi juri anak-anak tentang cara ber-wudlu’, sholat, dan membaca doa. Bagaimana saya harus menilai sholat mereka, kalau sholat saya sendiri masih sering terlambat. Bagaimana saya harus menilai berwudlu mereka, kalau saya sendiri masih senang bermain dengan hal-hal yang kotor. Bagaimana saya harus menilai bacaan sholat mereka, kalau saya sendiri masih belepotan cara membacanya.
Berat sekali amanah menjadi juri itu dengan kualitas saya yang masih jauh dan belum mumpuni untuk menilai orang lain (meskipun yang saya juri ini adalah anak-anak kecil). Saya takut dengan nilai dan pertanggungjawaban yang nantinya akan saya berikan. Bukan masalah nilai A atau B, Satisfied atau Unsatisfied, tetapi barometer-nya apa?

Untuk mundur dari dewan juri tentu sudah terlambat dan bukan merupakan solusi yang terbaik, apalagi akan mempengaruhi psychology berpikir anak-anak saya. Dengan segala macam concept dan excuse akhirnya saya beranikan diri maju menjadi juri pada acara test hari Sabtu kemarin. Tentunya dengan bermacam bacaan komat-kamit melekat di bibir saya dan berbekal beberapa catatan kecil. Pertimbangan saya antara lain adalah sistem penilaian ini sangat sangat subyektif. Mengapa? Karena, bagaimana saya harus men-judge dengan nilai B, padahal si Fulan sudah mati-matian untuk berjuang dengan kemampuannya. Untuk yang satu ini, berarti saya sudah dholim dan tidak mengenal yang namanya “menghargai semangat berjuang” dari seorang anak. Sementara itu, karena keseharian saya hanya bergaul dengan anak saya saja, artinya saya tidak mempunyai kewenangan untuk menilai anak-anak orang lain. Karena pada dasarnya, hanya orang-tua masing-masinglah yang tahu seberapa besar effort yang telah dikeluarkan anak-anaknya untuk pelajaran mengaji ini.

Akhirnya saya dihadapkan hanya pada dua pilihan. Pertama, saya hanya akan menilai anak saya sendiri, dan tidak menilai anak-anak yang lain. Kedua, sebaliknya, saya tidak akan menilai anak-anak saya, tetapi akan menjadi juri buat anak-anak yang lain. Dengan berbekal dua option ini, saya berangkat menjadi juri. Maka, kalaulah nilai menjadi penting sekali bagi para santri kecil itu, maka dengan senang hati saya katakan, “Ingin saya memberi nilai A untuk semua anak yang ikut test” asal mereka masih mempunyai semangat berjuang untuk terus belajar lagi. Dan terus terang, saya tidak akan memberikan nilai itu secara obral. Karena pertanggungjawabannya lebih besar ketimbang effect psychology-nya. Ketakutan saya yang lain adalah mislead dengan nilai yang mereka percayai selama ini. Selama ini yang sudah tertanam dibenak mereka adalah nilai merupakan bentuk pengakuan dari sebuah prestasi. Karena nilai inilah maka di lingkungan sekolah mereka terdapat siswa kelompok pintar dan kurang pintar. Mereka paham sekali bahwa grade A is better than B. Ini sebenarnya yang saya takutkan. Ketimbang nilai, kalau saya boleh memilih, saya lebih sreg kalau rapor untuk kategori pondok pesantren berisi ulasan tentang si Fulan dari segi bacaan dan hafalan. Sehingga untuk mereka yang misalnya belum hafal bacaan Tasahudnya, pada rapor mereka terdapat tanda “Perlu dihafalkan lagi bacaan Tasahudnya”. Dan ini akan ditest ulang pada test term berikutnya, untuk review sejauh mana tingkat hafalannya.

Ketika tulisan ini saya sampaikan, saya tidak tahu nilai apa yang akan dikeluarkan oleh pondok pesantren kecil ini. Saya bukan tidak peduli dengan nilai yang akan dikeluarkan, tetapi tolok ukur saya untuk anak-anak ini (khususnya pada level sekarang) adalah mampu melafalkan bacaan Quran dengan benar dan menghafalkannya dengan benar pula. Hanya itulah tolok ukur saya saat ini. Terlalu sederhana? Mungkin. Kenapa? Alasan pertama, karena saat ini, pada level itulah posisi saya masih bertengger (yang notabene adalah juri-nya). Sungguh tidak adil rasanya kalau saya berharap lebih dari itu kepada anak-anak saya. Alasan kedua, saya tahu pasti bahwa kelak anak-anak inilah yang akan menjadi juri dari apa yang pernah kita lakukan kepada mereka. Ya..paling tidak, saya sekarang harus siap-siap agar mereka kelak tidak balas dendam dengan memberi saya nilai D dihadapan-Nya.
(Prahoro Nurtjahyo, 7 Agustus 2006)

Friday, July 28, 2006

Dalam Tidur Kita


Minggu pertama bulan Juli 2006, saya menyempatkan ngobrol cukup lama dengan sesepuh kota kami, yang karena masa tugas dan memang sudah masuk usia pensiun, beliau akan pulang balik ke kampung halaman. Satu hal yang membuat saya merenung berhari-hari akibat obrolan itu adalah tentang usia manusia. Kalaulah usia manusia diukur berdasarkan aktifitas keseharian, maka usia manusia adalah hanya sebatas waktu ketika manusia itu tidak tidur. Artinya apa? Artinya kalau usia kita 60 tahun, dan jika selama 60 tahun itu, 12 jam digunakan waktunya untuk tidur, maka hidup kita yang sebenarnya hanyalah 30 tahun. Bagaimana dengan 30 tahun sisanya? Itulah yang saya namakan dengan kehidupan semu, dimana ketika tidur, kita hanya take things as they come. Kalau dalam bahasa Jawa istilahnya pasrah bongkokan. :-)

Tidur adalah suatu proses alamiah dimana organ tubuh kita mengirim SMS berupa signal melalui darah ke otak yang isinya, “Mr. Otak, Peredaran darah sudah mulai saturated nih.” Oleh si otak, SMS dari darah ini diresponse, ”Ok… it is time to take a rest”. Pada saat itulah, satu per satu pekerja yang ada ditubuh kita mulai pulang, dan mesin-mesin mulai berhenti bekerja yang akhirnya menutup kelopak mata kita sehingga tertidurlah kita.

Untuk kondisi manusia normal, seluruh aktifivitas kita berhenti kecuali detak jantung saja, dimana khusus untuk organ yang satu ini, kita hanya bisa titipkan ke Yang Maha Kuasa. Mengapa? Karena ketika kita terlelap hanya Dia-lah yang berkehendak dan menjaga tidur kita. Akankah kita nanti terbangun dari tidur untuk meneruskan episode hidup berikutnya atau malahan sebaliknya, tidur kita kebablasan dan tidak bangun-bangun lagi, semuanya itu diluar kehendak manusia.

Satu-satunya aktivitas yang mungkin ada selama kita tidur adalah mimpi. Sejuta orang kepala yang pernah bermimpi maka ada sejuta orang pula yang berbeda mengartikan sebuah mimpi. Maka bersiap-siaplah anda kalau sudah bermimpi. 


Dalam klenik Jawa, mimpi selalu dikaitkan sebagai perlambang sesuatu yang akan terjadi. Misalnya, ketika seorang bermimpi mandi, maka orang-orang tua dahulu selalu berpesan “Hati-hati lho… Itu pertanda akan sakit”. Bukan hanya itu saja, orang yang bermimpi menggendong bayi di-identikan sebagai tanda akan memperoleh rejeki. Ada yang lebih ekstreem lagi, seorang lajang bermimpi naik kepelaminan itu pertanda akan datang kematian. Ada lagi yang sering kita dengar, mimpi di gigit ular artinya yang bersangkutan dekat dengan jodohnya. Masih banyak lagi contoh hubungan antara mimpi dengan prediksi. Disadari atau tidak, inilah potret kehidupan masyarakat kita yang masih dipenuhi dengan kepercayaan spiritual dalam kehidupan sehari-harinya.

Mimpi adalah product yang didrop dimana manusia hanya bisa menerimanya tanpa kuasa untuk order sebelumnya. Bersyukurlah kita manusia karena mimpi ini datangnya tiba-tiba tanpa ada pengumuman yang mengawalinya. Tentu hidup ini semakin amburadul kalau mimpi itu bisa dipesan datangnya. Coba sampeyan bayangkan, seandainya dalam otak kita terdapat mesin untuk memesan mimpi. Sudah barang tentu kita manusia menjadi sibuk setiap malam sebelum tidur. 


Kita sibuk untuk tekan tombol click pada mesin mimpi itu yang kemungkinan salah satu pesannya berisi, ”Hi…Mesin mimpi, dalam mimpi nanti, Saya ingin bertemu dengan mbak Sophia Latjuba”. 

Kemudian mesin dalam otak kita mengirim berita konfirmasi ke kita “OK, Your mimpi has been arranged”. 

Masih belum selesai, si mesin mimpi masih menanyakan lagi, ”Berapa lama waktu yang anda perlukan dalam mimpi ini?”. Tentu jawabannya akan tergantung dari masing-masing orang. Dari banyak kemungkinan jawaban, saya berkeyakinan, ada yang akan menjawab sebagai berikut,” Wow…dengan Sophia Latjuba?… ok mesin mimpi, kalau begitu ..jangan bangunkan saya dari tidur”. :-)

Berbicara tentang mimpi, ada cerita menarik dibawah untuk disimak. Saya ubah setting cerita dan bahasa dari original sumbernya. Silahkan menikmati.

Ada pasangan keluarga muda yang mempunyai anak satu laki-laki berusia 5 tahun. Pasangan muda ini termasuk pasangan karir dimana suami dan istri sama-sama bekerja. Dalam istilah perekonomian keluarga dikenal dengan double income.

Suatu hari, si anak kecil ini tiba-tiba saja menangis ditengah malam. Ayahnya yang tidur di kamar sebelahnya terbangun kaget. Didatangi anaknya ini, “Kenapa nak?” tanya ayahnya. Oleh anak itu dijawab, “Saya bermimpi kakek meninggal”. Ayahnya berkata, ”Itu hanya mimpi, ayo tidur lagi”.

Besok paginya si ayah memperoleh interlokal yang mengkhabarkan bahwa mertuanya laki-laki meninggal dunia karena tertabrak mobil.

Selang seminggu, si anak bangun dari tidur sambil menangis lagi. Si ayah datang lagi ke kamar tidur si anak, “Ada apa, nak?” Masih sambil menangis si anak bilang, ”Saya bermimpi nenek meninggal dunia”. Si ayahnya menjawab, ”Itu khan hanya mimpi, sudah jangan dipikirkan, ayo tidur lagi, diluar masih malam”.

Keesokan harinya, mendapat interlokal bahwa neneknya meninggal dunia karena stress ditinggal kakek.

Hanya berselang tiga hari, si anak bangun lagi dari tidur dan menangis lebih kencang lagi dari yang sebelumnya. Si ayah yang masih capek mendatangi kamar tidur anaknya, ”Ada apa lagi ini Nak?”. Si anak menjawab, ”Saya mimpi ayah saya meninggal”. Si ayah menjawab, ”Sudahlah nak… itu namanya mimpi, bunga tidur. Ayo tidur lagi”

Setelah si anak tidur, si ayah kembali ke tempat tidurnya. Ternyata si ayah ini keder juga dan tidak bisa tidur. Matanya masih kelap-kelip, melirik ke kiri ke kanan, mulutnya nyengir ketakutan, ”Weleh…jangan-jangan benar kata anak saya ini. Jangan-jangan ini hari terakhir saya”. Dengan berselimut kain yang tebal, si ayah menjadi ketakutan sendiri dan berjaga kalau-kalau si malaikat pencabut nyawanya datang.

Esok paginya, si ayah bangunnya terlambat karena kecapaian tidak bisa tidur semalaman. Ketika bangun didapati tubuhnya masih segar. “…tuh khan… saya bilang hanya mimpi”. Habis itu si ayah keluar kamar dan didapati istrinya yang bekerja sebagai sekretaris masih berada dirumah dan menangis terisak-isak. Di tanya oleh si ayah, “Sayang, kok nggak kerja. Kenapa kamu menangis?”. Masih dengan sesenggukan si Istri menjawab, ”Barusan dapat telpon dari kantor, kalau Boss di kantor meninggal dunia karena mobilnya tertabrak truck”.


(Terima kasih buat Pak Masyhur Alaydrus atas dukungan morilnya selama ini, selamat jalan dan menikmati masa pensiun. Prahoro Nurtjahyo, 28 Juli 2006).

Thursday, July 27, 2006

Tempat Tidur

Awal bulan lalu, rumah tangga saya sudah berusia lebih dari dua belas tahun. Usia yang menurut ibunda saya sudah lulus masa kritis. Selama masa itulah, rumah tangga kami menerapkan yang namanya asas kebersamaan. Kebersamaan hampir disemua lini. Pergi bersama, makan bersama, belanja bersama, sampai tidurpun harus bersama. Pendek kata, terasa tidak nyaman kalau ada salah satu dari anggota keluarga yang tidak ikut. Kurang lengkap rasanya. Jadi anda bisa bayangkan, tidur dalam satu tempat tidur untuk kami berlima. Sudah pasti uyel-uyelan, gerah dan panas. Apalagi musim Summer seperti sekarang ini.


Tentunya banyak perubahan antara dua belas tahun yang lalu dengan kehidupan sekarang. Bukan hanya pengalaman kehidupan yang bertambah, melainkan juga postur tubuh. Pada awal kehidupan berumah tangga, saya dan istri adalah pasangan yang (kata orang) berpostur langsing. Dua belas tahun kemudian, postur itu berangsur menjadi melebar, bukan hanya di daerah perut saja, tetapi juga menyerang daerah wajah, pipi dan leher. 

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika orang tua mengunjungi kami setelah 5 tahun tidak bertemu, komentar ibu saya pada waktu itu, “Walah le… kok badanmu sekarang bentuknya kotak”. Mau menyerang balik nggak enak, lha wong ibu sendiri yang bilang. Saya merasa sangat pasti walaupun belum pernah melihatnya sendiri, bahwa postur ini akan terlihat sangat jelek kalau dalam posisi duduk, dimana perutnya menjadi berlipat-lipat. Berkali-kali saya berkaca, mulai dari arah samping, depan, belakang, nungging, akhirnya saya menyerah dan berkata dalam hati, “Dari sudut manapun saya melihat, sama saja bentuknya. Dosa apa yang sudah saya perbuat sehingga untuk melihat perut saja, saya memerlukan ketabahan hati”. Oalah nasib…nasib…..

Mari kita tinggalkan masalah perut. Meskipun ukuran perut dan ukuran tempat tidur ada kaitannya, tetapi tulisan ini bukan berurusan dengan perut, melainkan dengan tempat tidur. Kalau dua belas tahun yang lalu, tempat tidur dengan kasur ukuran Twin masih mampu menampung kami berdua. (Namanya juga pengantin baru, tidak ada kasurpun jadilah, asal tidurnya berdekatan). Maka sekarang, dua belas tahun kemudian dengan ukuran badan yang XXL, tempat tidur dengan kasur ukuran King pun terasa masih terlalu sempit.

Karena masalah tempat tidur inilah, saya dan istri sempat uring-uringan. Maklum saja, kalau sudah masuk urusan rumah tangga, urusan sekecil apapun bisa menjadi besar. Walaupun menurut ibu saya, kami sudah lulus EBTA masa krisis.

Beberapa bulan sebelumnya, istri saya pernah berkomentar, “Sudah waktunya anak-anak harus tidur sendiri di kamar masing-masing”. Saya meng-amin-i saja pendapat istri saya ini. Ternyata amin saya ini mempunyai dampak secara financial yang tidak sedikit. Artinya, saya harus siap untuk tiga tempat tidur lengkap dengan aksesorisnya: kasur, bantal, sprei dan lain-lain. Untuk implementasinya, akhirnya kamipun bermaksud untuk melihat-lihat tempat tidur di salah satu toko furniture di kota kami. Bukan untuk membeli, tetapi melihat-lihat saja. Selama di toko itu, kami ditemani seorang Sales yang jago sekali meyakinkan pelanggannya. Nah sialnya pelanggannya itu adalah kami. Salah satu statement yang masuk ke benak kami adalah “Kasur dibilang layak pakai jika usia kasur dipakai itu dibawah 10 tahun, itupun tergantung dari kualitas kasurnya” (itu kata Sales..lho). Tidak hanya selesai dengan statement itu, Sales itu masih berkicau lagi, “Tubuh anda, mulai dari kepala sampai kaki harus memperoleh sesuatu yang layak. Untuk apa anda bekerja siang malam, sedangkan untuk organ anda sendiri anda masih pelit.” Hmmm….

Entah setan apa yang masuk ke kuping saya waktu itu,... kok ya nurut saja saya sama si Sales ini. Saya yang biasanya complain dan challenge semua macam bentuk argumentasi, tapi tidak saya lakukan untuk sales yang satu ini. Kepada sales yang satu ini, saya hanya manggut-manggut saja dengan semua nalar dan logikanya. Mirip sekali seperti anak TK yang harus duduk manis supaya nanti dapat permen dari gurunya. Rencana yang hanya melihat-lihat berubah menjadi membeli. Edan…mati tenan kowe…..

Walhasil… kami akhirnya beli tiga set tempat tidur. “Urusan uang bisa dicari, urusan nyaman susah dicari,” begitu akhirnya logika yang saya pakai untuk menutupi ke-ngeri-an saya begitu melihat tagihan dari Credit Card.

Hari pertama furniture datang, semua anak saya berlompat-lompat kegirangan. Dalam hati saya, “Ok juga .. For once…make them happy”. Anak saya laki-laki yang paling besar sudah berencana untuk memasang koleksi mainannya dan buku-bukunya di rak sebelah atas headboard-nya. Anak saya perempuan sibuk dengan rencananya untuk mendekor tempat tidurnya berwarna putih dan pink lengkap dengan boneka koleksinya. Anak saya paling kecil, tidak mau ketinggalan, sementara kakak-kakaknya sibuk dengan rencananya masing-masing, dia cuek saja yang penting sekarang dia bisa lompat-lompat di atas tempat tidurnya sendiri tanpa ada yang melerainya.

Pada malam pertama hari itu, setelah hampir dua belas tahun tidur kami “diganggu” oleh anak-anak kami, akhirnya kami merasakan sepinya tempat tidur ukuran King ini. Mendadak ukurannya menjadi besar sekali. Ditengah malam saya terbangun dan merasa aneh. Sambil jalan perlahan-lahan, saya tinggalkan istri saya yang masih tertidur di tempat tidur kamar utama. Saya pindah ke kamar tidur anak-anak. Saya pilih anak saya paling kecil, karena dengan ukuran perut seperti ini, hanya tempat dialah yang paling cocok untuk sharing tempat tidur. Dan terlelaplah saya disana.

Walah….ternyata rasa rindu itu milik para orang tua. Bukan anak-anak itu yang tidak siap. Ternyata saya-lah yang berada pada pihak dimana merasa tidak tega dan belum ikhlas untuk ditinggal anak-anak pisah ranjang. Sekarang, jadi tambah dongkol dan nggondok saja saya dengan Sales sialan itu. Karena dia-lah akhirnya saya harus melepaskan kenikmatan bermain dengan anak-anak saya yang jelas-jelas tidak bisa diganti masanya. Kapan lagi saya bisa menikmati bersama-sama mereka? Praktis, hanya sampai usia 13 tahun mereka masih mau melakukan segala sesuatunya bersama-sama keluarga. Selebihnya mereka akan enjoy sendiri dengan teman-teman mereka sendiri. Nikmatilah “For once…” anda dengan anak-anak, sebelum anda bercerita ke orang lain bahwa “Once Upon a Time” saya……………..(Prahoro Nurtjahyo, 27 Juli 2006).