Thursday, September 07, 2006

Blender

Keluarga kami memang boros dengan peralatan memasak yang namanya Blender. Tak terhitung berapa kali kami sudah beli Blender, baik dari yang merek A sampai Z, yang warna merah, hijau sampai putih, tetapi selalu saja semuanya berakhir dengan rusaknya si Blender yang relative tidak terlalu lama dari waktu ketika dibelinya. Kalaulah rusak karena sudah dipakai 1 tahun, ya wajarlah namanya juga barang yang dipakai setiap hari. 

Meskipun benda mati, tapi khan ada umurnya juga. Maka rusaknya Blender kami ini pun bervariasi. Ada yang setelah 3 minggu dibeli jebol puteran-nya, 1 bulan baru dibeli mur-nya lari entah kemana, ada juga yang 2 bulan setelah dibeli kabelnya terbakar. Dari semua Blender yang pernah kami miliki, usianya tidak lebih dari 3 bulan.

Saya jadi berpikir, “Apakah memang rumah kami ini tidak ber-aura barang-barang modern?” Sehingga untuk alat yang bernama Blender inipun kami harus merelakan kepergiannya dan berganti haluan memakai uleg-uleg dan Layah (beberapa daerah menyebutnya dengan Cuwek). Meskipun sama fungsinya, Layah umumnya terbuat dari batu kali, sedangkan Cuwek terbuat dari tanah liat.

Yo wis, kalau memang begitu garisnya. “Mau apa lagi, bagaimana kalau kita kembali ke asal saja?”, demikian kata saya ke istri. “Wong dulu kita juga biasa pakai Uleg-uleg dan Layah. Malahan rasanya lebih sedep.” Meski dengan wajah sedikit manyun, tetapi istri saya manut saja. Bagaimana nggak manyun? Karena pada akhirnya toh istri saya juga yang nanti menjadi pelaku utamanya untuk nguleg di Layah itu.

Walhasil… kehidupan dapur kami tanpa Blender-pun mulai memasuki babak baru. Saya tidak ambil pusing meski tanpa kehadiran si Blender, bahkan rumah menjadi lebih tenang tanpa ada suara yang meraung-raung. Wreng…wreng…wreng. Sekarang yang terdengar bunyi baru…..klethek … klethek … klethek …. berbenturan dua batu antara Layah dan Uleg-uleg.

Permasalahan baru dengan Layah inipun mulai muncul. Layah dari batu kali sebesar bagong itupun mulai merajai dapur kami. Bukan hanya “raja” dari segi kekuatan Layah, tetapi juga “raja” dari segi ukuran. Dapat anda bayangkan bahwa batu sebesar pantat kerbau itu kami letakkan di atas meja makan. Dan sudah barang tentu, karena ukurannya yang besar, perabotan yang lain harus mengalah. Mengalah dalam arti yang sebenarnya, surrender. Mau diadu dengan apapun, si Layah ini pasti menang. Kok bisa menang? Bagaimana dia tidak menang, lha wong dia terbuat dari batu kali. Peralatan dapur mana yang mau bersenggolan dengan batu kali? Paling tidak, 1 piring dan 1 mangkok sudah menjadi korban “pergesekan” dengan si Layah yang berakhir dengan pecahnya bibir si piring. Seandainya piring itu bisa ngomong, tentunya dia akan bilang “I do not want to argue with him. He is a stone …Man”.

Sudah barang tentu istri saya bukan hanya lagi manyun sekarang, melainkan sudah mulai menggerutu. “Apa sih susahnya kalau beli Blender lagi?” Dan aksi istri saya didukung oleh ketiga anak-anak saya. Kalau sudah waktunya makan malam, mereka berlarian ke kamar masing-masing. Ada saja alasannya. “Tadi makan banyak di sekolah”. Dari semua alasan, intinya hanya satu “bagaimana menghindari duduk bersama satu meja dengan Layah dari batu yang sebesar bagong itu”.

Memang keberadaan Layah di meja kami menghadirkan masalah baru dan dapat berdampak macam-macam. Paling tidak, ada dua macam pemikiran bagi orang-orang yang kebetulan melihat kami ketika makan malam bersama. Pertama, bagi yang tahu, wow ... keluarga kami sedang menyantap ikan bakar dengan lalapan dan sambel segar di atas Layah itu. Kalau pemikiran itu yang terjadi, maka saya tidak terlalu mempedulikannya. Kedua, bagi yang tidak tahu, inilah sialnya (dan yang saya takutkan), kami bisa jadi dianggap sedang melakukan upacara ritual melingkar di sekeliling batu yang terletak di atas meja makan itu. Waduh……

Inilah kehidupan keluarga kami tanpa Blender. Betapa batu sebesar bagong ini menjadi idola kami yang baru dan tentu menjadi masalah juga bagi kami karena ternyata kedudukan kami dikalahkan oleh sebuah batu. Kalau ada yang iri karena kami mempunyai Layah (Cuwek) sebesar Bagong, maka please anda tidak perlu iri. Apapun yang anda lihat, hanya indah saat sambel segar itu berada di dalam mulut saja. Selebihnya, terlalu banyak repot mengurusnya daripada menikmatinya. Apalagi dengan ukurannya yang sebesar itu. Jadi, kembali ke Blender saja?
(Prahoro Nurtjahyo, Kamis Pagi, 7 September 2006).

Wednesday, August 30, 2006

BUMN dari Kacamata Saya

Saya bukan ekonom dan bukan (atau belum menjadi) pelaku bisnis. Dunia perekonomian yang saya geluti hanya terbatas radiusnya pada tingkat keluarga saja. Analisa ekonomi saya sangat cekak dimana hanya bersandar pada data neraca pembukuan antara angka pengeluaran dan angka pemasukan. Dapat saya pastikan bahwa angka pemasukan hanya bersumber dari gaji, sementara angka pengeluaran bermacam-macam pintunya. Beberapa pintu pengeluaran itu diantaranya adalah cicilan rumah, cicilan membayar loan sekolah selama saya sekolah, sewa mobil, belanja bulanan, biaya bensin, sekolah anak-anak dan masih banyak lagi. Dari ilmu ekonomi yang saya pahami, segala macam pengeluaran itu harus dapat ter-cover oleh pemasukan. Dengan komposisi yang tidak berimbang, dimana sumber pemasukan hanya satu dan pintu pengeluaran banyak sekali, disinilah indahnya bermain-main dengan ilmu ekonomi. Maka kalau anda melihat wajah saya tersenyum, itu adalah sinyal bahwa saldo pemasukan dikurangi pengeluaran masih bernilai positif.

Dalam tahapan untuk mencoba berkontribusi pada ekonomi secara makro dan lebih tinggi lagi tingkatannya (bukan hanya tingkat keluarga), beberapa bulan terakhir, saya dan beberapa kolega di Houston secara marathon mencoba untuk bersinggungan secara fisik dengan beberapa BUMN di Indonesia. Istilah yang kami gunakan adalah “Sudah waktunya kita berjuang dengan tangan”. Artinya tidak ngomong saja, tetapi bagaimana caranya dapat berbuat suatu yang nyata dan dampaknya dapat dirasakan oleh rakyat banyak di tanah air.

Kenapa kok susah-susah mikirin negara? Belum tentu yang dipikirin juga ngerti? Sambil berkelakar, selalu saja alasan kami adalah mencari Noble Prize untuk diri sendiri tentang arti kehidupan. Kemudian mengapa kami memilih BUMN? Ada beberapa alasan. Alasan utamanya adalah bahwa BUMN inilah yang semula diharapkan sebagai salah satu motor pencetak pendapatan negara dan juga lahan yang strategis dalam upaya penyiapan Sumber Daya Manusia Indonesia yang tangguh. Dengan sistem yang baik, tentu harapannya adalah sumber pendapatan pemerintah tidak hanya dari satu sumber saja tetapi banyak sumbernya, salah satunya dari puluhan (ratusan?) BUMN ini. Ya jelas harus banyak sumbernya, lha wong rakyatnya juga banyak. Apakah dengan melakukan ini berarti kami berjiwa Patriotis? Belum tentu. Kalau seorang Patriot diukur berdasarkan nilai perjuangannya yang tanpa pamrih, maka saya jelas tidak termasuk dalam barisan Patriot ini. Saya harus jujur pada diri saya sendiri, karena sepertiga kehidupan saya telah didikte oleh azas kapitalisme dimana segala sesuatu akan menjadi seimbang kalau kita mampu melakukannya secara wajar dan pada tempatnya.
There’s no such a free lunch.

Dengan networking yang kami punya di Houston, akhirnya kami berhasil meyakinkan beberapa investor untuk melirik ke Indonesia. Sudah barang tentu proses ini tidak Sim Salabim Azza Kadabra tiba-tiba datang begitu saja. Tentu Trust itu muncul setelah kami berinteraksi cukup lama dengan industri perminyakan di Houston. Dengan kesempatan bekerja di Houston dan berinteraksi dalam beberapa project untuk Oil dan Gas sangat membantu kami dalam hal mempromosikan kualitas SDM and Infrastruktur yang ada di Indonesia.
Kalau sebelumnya para investor di Houston hanya melirik Singapura atau Malaysia untuk kawasan Asia Tenggara, saat ini ada sinyal mereka mulai mempertimbangkan Indonesia. Sebulan yang lalu, salah seorang investor menghubungi kami tentang kemungkinan membangun Barge Platform di Indonesia. Dari sudut logika manapun dan siapapun akan mengatakan “Ini tentunya pekerjaan yang sangat gampang dan merupakan kesempatan yang bagus”, ibaratnya mau makan tinggal disuapi, karena kita tidak perlu susah-susah mencari investor tetapi si investor sudah datang sendiri dengan membawa uang dan mau mengerjakaannya di Indonesia. Kalau pembaca sepakat dengan kalimat di atas, ternyata tidak demikian halnya yang terjadi di negara kita Indonesia. Kalau pembaca berpikir tentunya bloon sekali orang kita kalau tidak mampu memanfaatkan kesempatan ini, maka itulah kenyataannya. Memang bloon. Ternyata project yang sudah disiapkan di atas mejapun lenyap begitu saja.

Kalau dasar berpikirnya adalah pure bisnis, tentunya kami akan menawarkan project ini ke pihak swasta di Indonesia (bukan ke BUMN, ya toh?). Lha wong perusahaan swasta yang ada juga banyak sekali, ada Bukaka atau Tripatra. Artinya, kita bisa saja bermain, dan kita akan mendapatkan komisi sekian persen dari nilai project yang kami bawa dari Houston ke Indonesia. Pada level ini, ternyata belum sama pemahaman kita tentang big picture membangun bangsa. Atau bisa jadi jalan pikiran seperti ini selalu muncul setiap kali ada orang membawa project ke Indonesia “Ente dapat berapa persen dari Investor” yang pada akhirnya “Bagi-bagi dong…?”

Selama bersinggungan dengan BUMN di Indonesia, satu hal yang sangat memperihatinkan adalah etika dalam berbisnis. Saya tentunya tidak perlu sewot tentang etika bisnis kalau saja BUMN ini milik mbah saya. Mau jungkir balik ya terserah saja, lha wong punya mbah saya sendiri. Lemahnya etika bisnis inilah yang akhirnya memberikan isyarat kepada kita untuk lebih berhati-hati kalau sudah melibatkan dua institusi: BUMN di Indonesia dan institusi lain di luar negeri (US misalnya). Beberapa pengalaman pahit sempat akan merusak Trust (yang selama ini dengan susah payah kami harus mendapatkannya) karena ulah BUMN kita tidak memakai kaidah atau etika dalam berbisnis.

Siapapun tahu bahwa tekanan politik sangat kental dan berpengaruh dalam kehidupan bisnis di Indonesia. Namun demikian, alasan ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk bertindak tidak etis dalam bisnis. Masih saja ada yang namanya tata karma dalam berbisnis. Lho…kenapa kok kaget sekarang? Bukannya sudah hal yang jamak dan sudah berlangsung lama di negara kita? Bukankah sumbangan kemanusiaan untuk Tsunami di Aceh saja, masih harus bayar untuk mengeluarkan kontainernya dari port Belawan Medan? Sudah menyumbang dan si penyumbang ini masih harus membayar biaya untuk mengeluarkan barang sumbangannya dari pelabuhan. Jadi kenapa kok kaget? inilah wajah kita selama ini. Sepertinya kita semua sudah terkena short term memory loss.

Akhirnya, kalau tahun lalu saya memaki habis-habisan cara kerja Laksamana Sukardi (LS) dan mendukung cara berpikir Kwik Kian Gie (KKG) dalam konteks jual-menjual BUMN, maka tahun ini saya menjadi bimbang dan perlu me-review kembali cara berpikir saya sebelumnya. Apa iya BUMN kita ini menjadi motor pencetak uang bagi pendapatan Negara seperti yang diharapkan? Atau malahan sebaliknya, jangan-jangan keberadaan BUMN ini hanya sapi perahan dan merupakan alat legitimasi beberapa kelompok tertentu untuk mendapatkan uang pinjaman dari negara lain karena alasan project. Sungguh sebuah legitimasi yang sakral karena keberadaannya harus disahkan oleh sebuah Undang-Undang Dasar (UUD).

Sudah tiba saatnya saya harus minta maaf ke pak LS karena bisa jadi pak LS ini sakti mandraguna sehingga sudah tahu betul kharakter dari BUMN kita. Mungkin juga, karena terlalu banyak orang Jawa disekitarnya, maka pak LS menjadi sungkan dan tidak tega untuk mengungkapkan dengan kata-kata lugas tentang kondisi BUMN kita yang sebenarnya. Sehingga daripada mempertahankannya lebih untung kalau dijual, jelas pendapatannya dan tidak digunakan bancakan orang per orang.

“Walah Mas… baru segitu saja kok pundung, sakit hati dan nggondok”. Kalau kejadian ini baru pertama kalinya, saya akan terima statement itu bahwa saat ini saya Pundung. Dan tentu tidak perlu ada tulisan ini. Karena kami sudah banyak mencobanya dan selalu berakhir dengan hal-hal yang tidak masuk akal, maka tulisan inipun muncul. Ketika hati sudah dongkol, beruntunglah anda kalau masih punya kolega yang sejalan. Kata-kata dari sahabat saya ini yang membuat saya tidak patah arang (paling tidak sampai sekarang) yaitu “Kita sudah pernah mencobanya. Artinya, telah gugur satu kewajiban kita yang kelak akan ditanya olehNya tentang apa saja yang sudah kamu lakukan untuk hidup ini”. Wallahualam
(Prahoro Nurtjahyo, Rabu Malam, 30 Agustus 2006)

Monday, August 21, 2006

17 Agustusan di Kampung Saya

Hari Sabtu kemarin adalah acara akbar peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke 61 tahun di kampung saya. Seperti halnya kampung-kampung yang lain, kampung saya tidak mau ketinggalan. Meskipun jauh dari pusat negeri, untuk menutup semua aktifitas peringatan 17 Agustusan, maka pada hari Sabtu kemarin diadakan bazaar sekalian menutup serangkaian kegiatan dan berakhir pekan bersama masyarakat. Sungguh merupakan pemilihan waktu yang tepat karena besoknya masih hari Minggu sehingga masih sempat untuk istirahat seharian. Terutama bagi mereka-mereka yang masuk dalam jajaran seksi sibuk.

Hanya saja, sialnya, cuaca sejak pagi hari sudah terlihat tidak bersahabat. Mulai subuh sudah terlihat awan mendung berarak menyelimuti kampung kami. Bahkan sempat turun hujan beberapa saat pada pagi hari. Sudah barang tentu ini membuat resah panitia bazaar. Saya datang sedikit terlambat pada acara bazaar ini. Sementara istri dan anak-anak saya sudah datang lebih awal karena anak saya perempuan harus berdandan ala putri Solo pada acara pembukaan.




Dari kejauhan saya melihat pak RT, salah satu tokoh terkemuka di kampung kami. Saya hampiri pak RT dan berbincang sejenak di pelataran tempat bazaar ini diadakan.

”Bagaimana pak RT khabarnya?”, sapa saya.
“Baik ..Mas…”, jawab pak RT.

“Wah sibuk ini ceritanya?”
“Yah begitulah Mas….. saya masih khawatir kalau hujannya turun, soalnya ramalan cuacanya 40% hujan pas malam hari. Wah... lak celaka to Mas kalau begitu?”

“Celaka bagaimana pak RT?”
“Lha iya…wong sudah capek-capek disiapkan selama hampir setengah tahun lho acara ini. Kalau hujan khan artinya acaranya muspro (baca: sia-sia)”

“Iya ya pak…Tapi sekarang mendungnya sudah hilang gitu lho”
“Wah.. Mas… jangan bilang siapa-siapa ya. Untuk mengusir hujan, tadi itu saya sudah telpon ke kantor Pusat sana. Saya bilang kalau kemungkinan besar akan turun hujan. Untung saja mereka punya ahli penolak hujan”

“Wah…hebat tenan kantor Pusat sana ya pak RT?”
“Iya Mas… saya tadi dipandu oleh ahli penolak hujan dari Pusat sana, bahwa saya harus menyiapkan lombok merah yang besar dan diposisikan berdiri menghadap ke langit.”

“Itu artinya apa Pak RT?”
“Artinya…lombok itu khan pedes Mas, dan dengan posisi menantang ke langit artinya menolak semua yang datang dari arah atas. Jadi hujannya tidak akan turun karena takut dengan lombok yang menghadap ke atas itu”

“Tapi sekarang udaranya panas sekali pak RT. Apakah ini artinya lomboknya tadi kebanyakan?”
“Wah saya juga nggak tahu itu Mas”
Karena jumlah pengunjung yang semakin banyak yang datang, kamipun bergeser sambil berpindah tempat untuk mojok. Kami masih meneruskan obrolan kami.

“Wah…. coba kita dulu merdeka bulan Maret atau April..gitu yah.. mungkin suasananya enak ya Mas, anginnya semilir, udaranya sejuk”, terang pak RT.
“Apakah mungkin kita bisa memindah harinya pak RT…. Nanti DPR di Pusat sana mencak-mencak”.

“Oalah Mas… di negeri kita ini apa to yang tidak mungkin? Semuanya yang aneh-aneh itu mungkin Mas”“Nah apakah kita juga harus mengganti Teks Proklamasi yang sudah terlanjur ditanda-tangani tanggal 17 Agustus 1945 itu pak RT?”

“Khan itu bisa di-amandemen-kan to Mas. Jangan underestimate gitu lho, kita ini jago kalau urusan amandemen Mas”“Kalau harinya diganti, apakah artinya anggaran rutin untuk peringatan HUT ini jadi berubah juga pak RT?”

“Wah iya ya Mas. Kok jadi tambah ruwet ya Mas? Ya sudahlah Mas, kalau begitu kita nikmati saja bulan Agustus ini, dengan apapun kondisinya”Saya amin-i saja pendapat pak RT ini dan obrolan kamipun akhirnya terputus karena saya harus ikut antri berebut mencari makanan jenis langka, yang adanya hanya pas acara bazaar 17 Agustusan saja.

Apakah sakral atau tidak, peringatan acara ini tergantung dari masing-masing yang merayakannya. Orang bilang semua itu dikembalikan ke niat awalnya. Ada berbagai macam bentuk cara memperingatinya. Ada yang memakai pakaian merah putih lengkap dengan songkok-nya, ada yang hanya memakai sandal jepit dengan kaos oblong bertuliskan I Love New York, ada yang memakai pakaian daerah dengan segala aksesorisnya, ada rok panjang, rok mini, celana panjang, celana pendek, pokoknya macem-macem modelnya. Dan acara yang padat itupun beragam isinya. Ada acara menari, pencak silat, menyanyi, mulai dari yang “berani” menyanyi sampai yang bener-bener menyanyi. Memang hebat sekali kampung kami ini, ternyata semua bakat yang terpendam dapat dengan beragam keluarnya ketika acara bazaar ini berlangsung dari tahun ke tahun.

Paling tidak, inilah yang baru bisa kami lakukan untuk memperingati hari yang bersejarah ini. Semuanya kembali ke niatan masing-masing dalam mengartikan kemerdekaan yang dilahirkan bulan Agustus ini. Jangan-jangan, e…siapa tahu, suatu saat nanti peringatannya berubah dan menjadi peringatan 17 Maretan atau 17 Aprilan, tetapi masih diniatkan untuk 17 Agustusan. Khan semua itu tergantung dengan niatnya! (Prahoro Nurtjahyo, Senin pagi, 21 Agustus 2006).