Setiap peristiwa yang terjadi
selalu didahului oleh suatu sebab. Kata “sebab” umumnya terjadi karena perbedaan
cara memandang dan menyikapi. Komunikasi yang tidak utuh adalah kontribusi utama
yang menjadikan permasalahan yang seharusnya simple menjadi complicated dan
ruwet. Ternyata bentuk komunikasi inilah yang menjadi sumber keresahan yang ada
sejak manusia dilahirkan di muka bumi ini.
Ketika Habibie meng-komunikasi-kan
segala uneg-uneg nya melalui buku,
maka sudah dapat ditebak akan ada yang pro
dan con tentang isi dari buku
itu. Selama masyarakat kita mampu
mengartikan bahwa informasi yang ada di buku itu adalah sisi pandang si Habibie,
tentunya masalahnya selesai di situ. Iya
to? Jangan sampai, tulisan itu (yang masih berupa personal opinion) dijadikan sebagai acuan atau dasar hukum untuk
bertindak. Lha modar kowe kalau
begitu caranya. Iya khan?
Ketidakberdayaan masyarakat dalam
menganalisa sebuah kejadian, sering kali dimanfaatkan oleh beberapa pelaku
untuk menghujat atau membenci. Yang
nanti ujung-ujungnya adalah demo.
Padahal belum tentu mereka yang ikut demo itu, tahu persis apa yang dia
demo-kan. Nah proses pembelajaran inilah sebenarnya yang menjadi tugas dari
para cerdik cendikia untuk terus menyebarluaskan ke semua elemen masyarakat
untuk think… think… think… dan tidak
mudah ter-provokasi. Mikir !!!
Biarkan Habibie dengan segala
ceritanya, biarkan Prabowo dengan counter ceritanya. Biarkan Jokowi dengan segala blusuk-kannya, biarkan yang anti-Jokowi dengan cercaan-nya. Pasti ada sesuatu yang path-nya akan
bersilangan dari cerita mereka berdua. Dari sanalah kita para pembaca, kawula cilik ini, untuk menganalisa
kasus per kasus dan akhirnya pada suatu kesimpulan pribadi (masih opini
sifatnya) bahwa ternyata si A yang berkata make
sense, sementara si B adalah pelawaknya. Tidak ada dari kita yang tahu sebenarnya apa yang
terjadi. Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Alloh SWT.


