Tahun ini, berpuasa di kampung saya terasa sekali beda dan tantangannya. Mengapa? karena perlu persiapan fisik yang lumayan prima untuk menjalaninya. Bukan saja untuk “survive” di siang hari (Subuh pukul 5:15am dan Maghrib pukul 8:30pm), tetapi juga kegiatan malam hari yang ketat dimana tarawih/iktikaf adalah menu utamanya. Untung saja, semua kegiatan ini tidak berbenturan dengan jadwal sekolah anak-anak karena memang kebetulan pas dengan liburan panjang Summer.
Pagi ini, saya terbangun ketika jam beker saya sudah menunjukan pukul 4:37am. Kalau bukan karena janji yang saya ucapkan semalaman, tentu tidak perlu kalang kabut seperti ini. Saya janjikan kepada anak-anak kalau menu untuk sahur adalah giliran ayahnya ini yang akan masak. Lha kok ndilalah ya bangun-nya telat pisan. Meski dengan super kilat, akhirnya makanan tersaji di meja dengan hanya 10 menit menjelang imsak. Edan…

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pak Kyai di Masjid tempat saya tinggal rasanya sudah tidak lagi galak dalam hal lamanya menjalankan ibadah sholat malam ini. Paling tidak, selama satu minggu pertama ini pak Kyai “belum ekstrim” sekali. Factor lamanya berdiri ketika membaca doa Qunut masih relatively bisa di-handle dengan baik oleh anak saya yang bungsu. Di hari pertama, anak saya ini sempat stress kalau-kalau bacaan Doa Qunut-nya lama, e..e.. ternyata pada Witir yang terakhir hanya Qulhu dan langsung sujud. Amanlah dia… :-)
Saya memakai anak saya yang ragil ini sebagai barometer karena tahun lalu si doi ini hampir mogok dan kapok kalau diajak Tarawih, karena doa yang dibaca oleh si Imam ini nggak ketulungan panjangnya. It’s really-really long, 30-45 minutes for Qunut only. Kresa-kresu… gelisah… ngedumel sendiri adalah bagian rutin tahun lalu yang dirasakan oleh anak-anak kecil usia 10 tahun ke bawah, apalagi kalau pas Ruku-nya super lama atau Sujud-nya lama sekali. Bahkan si ragil ini sampai nyeletuk, “What kind of doa is he reciting?”