Monday, July 15, 2013

Balapan Tarawih

Tahun ini, berpuasa di kampung saya terasa sekali beda dan tantangannya. Mengapa? karena perlu persiapan fisik yang lumayan prima untuk menjalaninya. Bukan saja untuk “survive” di siang hari (Subuh pukul 5:15am dan Maghrib pukul 8:30pm), tetapi juga kegiatan malam hari yang ketat dimana tarawih/iktikaf adalah menu utamanya. Untung saja, semua kegiatan ini tidak berbenturan dengan jadwal sekolah anak-anak karena memang kebetulan pas dengan liburan panjang Summer.

Pagi ini, saya terbangun ketika jam beker saya sudah menunjukan pukul 4:37am. Kalau bukan karena janji yang saya ucapkan semalaman, tentu tidak perlu kalang kabut seperti ini. Saya janjikan kepada anak-anak kalau menu untuk sahur adalah giliran ayahnya ini yang akan masak. Lha kok ndilalah ya bangun-nya telat pisan. Meski dengan super kilat, akhirnya makanan tersaji di meja dengan hanya 10 menit menjelang imsak.  Edan…

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pak Kyai di Masjid tempat saya tinggal rasanya sudah tidak lagi galak dalam hal lamanya menjalankan ibadah sholat malam ini. Paling tidak, selama satu minggu pertama ini pak Kyai “belum ekstrim” sekali. Factor lamanya berdiri ketika membaca doa Qunut masih relatively bisa di-handle dengan baik oleh anak saya yang bungsu. Di hari pertama, anak saya ini sempat stress kalau-kalau bacaan Doa Qunut-nya lama, e..e.. ternyata pada Witir yang terakhir hanya Qulhu dan langsung sujud. Amanlah dia… :-)

Saya memakai anak saya yang ragil ini sebagai barometer karena tahun lalu si doi ini hampir mogok dan kapok kalau diajak Tarawih, karena doa yang dibaca oleh si Imam ini nggak ketulungan panjangnya. It’s really-really long, 30-45 minutes for Qunut only. Kresa-kresugelisahngedumel sendiri adalah bagian rutin tahun lalu yang dirasakan oleh anak-anak kecil usia 10 tahun ke bawah, apalagi kalau pas Ruku-nya super lama atau Sujud-nya lama sekali.  Bahkan si ragil ini sampai nyeletuk, “What kind of doa is he reciting?”

Dengan target khatam Quran selama bulan Ramadhan ini, pak Kyai sudah langsung tancap gas di hari pertama dengan mulai Al-Fatihah, kemudian Al-Baqaroh dan seterusnya. Sampai malam minggu kemarin, bacaan terakhirnya adalah surat An-Nisa ayat 107. Dan kalau sampeyan ingin tahu berapa akselerasinya, hari Senin subuh pagi, ayat terakhir yang dibaca adalah surat Al-Maidah ayat 71. Ternyata tanpa terasa, ngebut juga pak Kyai ini :-)

Back in the old days, tarawih bagi sebagian Masjid adalah media untuk mencari banyak-banyakan jumlah pengikut alias makmum. Karenanya, banyak metoda yang dipakai oleh masing-masing masjid. Ada yang memakai metoda Jumlah rokaatnya 11 dan bacaan suratnya adalah bagian terahir dari juz 30, alias Qulhu dan teman-temannya saja J. Dan ini diulang-ulang mulai dari hari pertama sampai nanti 10 hari terakhir. Biasanya, untuk jenis ini, para remaja tanggung yang menjadi majority pengikut-nya. Inilah penganut Madzab: segera gugur kewajiban dalam menunaikan ibadah sholat tarawih di bulan puasa. :-)

Ada juga yang mengikut aliran 33 rokaat dengan doa yang super panjang. Kebanyakan dari mereka adalah golongan sepuh. Sudah dapat sampeyan pastikan, tidak ada anak usia belia untuk jamaah yang satu ini.

Tahun lalu, saya sempatkan mengikuti Tarawih di Masjid Agung Surabaya yang super megah itu.  Masjid ini memakai ajian 33 rokaat. Untuk ukuran makmum seperti saya ini, bukan karena ingin cepat-cepat keluar, tetapi karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan sistem 8 rokaat, makanya segera “kabur” terlebih dahulu setelah 8 rokaat tercapai dan membentuk aliansi sholat witir dengan anak-anak saya di teras masjid yang besar dekat jalan tol itu.

Suasana bulan suci memang terasa berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan dan toleransi untuk dapat menikmatinya. Amin.

Kalau sampai hari ini, bacaan Qur’an sampeyan sudah melewati surat Al-Maidah ayat 71, artinya sampeyan sudah mbalap pak Kyai saya. Jangan bilang siapa-siapa, terutama pak Kyai saya. Karena kalau sampai beliau tahu, bisa-bisa setiap malam kami akan diajak ngebut balapan dengan sampeyan untuk cepet-cepetan selesai Khatam Quran.  Ramadhan Karim. Wallohualam  (Prahoro Nurtjahyo, July 15, 2013)

No comments: