Monday, March 07, 2016
Tuesday, June 09, 2015
Just for You
Saya merasa paling bahagia di dunia ini kalau mendengar Istri saya ngomel. Apalagi kalau yang dijadikan sasaran adalah semua makhluk yang ada di dalam rumah, yaitu anak-anak dan saya, suaminya. Meskipun marah, nggondok, ngedumel, dan ngomel seharian, seluruh pekerjaan rumah masih dapat diselesaikan dengan baik. Begitulah hebatnya seorang Istri.
Melihat Istri ngomel merupakan berkah yang sangat besar dan bernilai positif bagi saya. Mengapa? Karena dengan cara itu dia bisa melampiaskan kekesalan batin-nya. Sehingga tidak perlu lagi dokter atau obat stress menahan beban sakit batin. Iya to? Semuanya sudah tersalurkan. Bahkan, kalau istri saya sudah mulai ngomel, pekerjaan rumah jadi lebih cepat. Dengan demikian, secara fisik, istri saya menjadi lebih sehat. Itulah kenapa saya bahagia sekali kalau Istri saya di rumah sudah mulai uring-uringan. Alhamdulillah.
Thursday, May 28, 2015
Saya (Tidak) Menangis
Menangis karena perpisahan itu perlu. Bahkan, bisa jadi menangis
itu harus. Tidak selamanya menangis itu identic
dengan cengeng. Bagi saya, menangis bisa
menjadi sesuatu yang indah, worth-it, dan “bermutu” jika di setiap tetesan air mata yang
jatuh adalah symbol betapa sakitnya
hati ketika persahabatan itu harus dipisahkan.
Melankonlis
sekali? May be. Romantis-kah? Not necessary. Makanya, kalau sampeyan melihat seseorang menangis, bisa jadi itu bukan karena dia
cengeng. Bisa jadi, dia takut jika
kenangan indah yang sudah terjalin di tempat ini, tidak dapat diulang lagi di tempat
lain. Iya khan?

Saya sering bertanya
“Kenapa kita harus berpisah? Mengapa sampeyan dan saya harus dipertemukan kalau akhirnya dipisahkan juga?”
“Kenapa kita harus berpisah? Mengapa sampeyan dan saya harus dipertemukan kalau akhirnya dipisahkan juga?”
Semuanya adalah rahasia Alloh. Bertemu karena Alloh.
Berpisah juga karena Alloh. Ketika
pertama bertemu dengan sampeyan, saya bertanya kepada Gusti Alloh, “Duh Gusti, kenapa saya dipertemukan
dengan sampeyan?” Tidak serta merta saya dapatkan jawabannya. Allah hanya
menuntun kita dengan Qodo dan Qodar-Nya agar berpikir bahwa semuanya
sudah dituliskan di Lauful Mahfudz
jauh sebelum manusia ini dilahirkan di muka bumi. Memang terkadang perlu waktu
untuk menerjemahkan Kalam-Nya. Kita
saja yang sering tidak sabar untuk menantikan rahasia apa sebenarnya. Dan
semoga sampeyan dan saya diberikan kesabaran,
ilmu dan kuasa untuk segera tahu alasan mengapa kita dipertemukan.
Demikian juga, ketika harus berpisah. Alloh telah mencukupkan pertemuan sampeyan
dan saya karena sesuatu yang terbaik sudah menanti kita didepan sana. Apa itu? Wallohuallam.
(Prahoro Nurtjahyo, 28 May 2015).
Subscribe to:
Posts (Atom)
