Sunday, July 16, 2006

Mengaji

Setiap hari Sabtu saya harus ikut ke mushola satu-satunya di kota kami untuk mengantar anak-anak saya belajar mengaji Al-Quran. Kata harus sengaja saya pilih karena mempunyai makna untuk memaksakan kehendak. Kehendak yang mana yang dipaksakan? Paling tidak ada dua kehendak mengapa saya melakukan ini. Pertama, kehendak untuk mencari excuse dan mempersiapkan jawaban karena kelak saya pasti ditanya olehNya tentang “Apa yang sudah kamu ajarkan kepada anak-anakmu?”. Kedua, kehendak karena dulu saya belajar mengaji tidak memakai metoda yang baku, kurikulum yang jelas dan hanya memakai dalil “asal bisa” mengaji. Maka sudah barang tentu, untuk urusan mengaji, saya tidak berani memberikan sesuatu kepada anak-anak saya dimana saya sendiri belum yakin tingkat kebenaran lafalnya. Untuk itulah saya harus mencari guru yang mempunyai kemampuan mengaji lebih bagus.


Saya tidak termasuk pada lingkaran makom para ahli tafsir yang piawai dalam mengartikan ayat per ayat. Garis berdiri saya masih sangat jauh terbelakang dari lingkaran para ahli tafsir itu. Dengan keterbatasan pemahaman tentang agama, membaca Quran bagi saya bukan hanya dalam benar cara membacanya, tetapi juga mampu melantunkannya dengan suara yang indah sehingga enak didengar. Bukan berarti terjemahannya tidak penting, tetapi pada level ini, saya lebih memfokuskan pada cara membaca yang benar dan mampu mempresentasikan bacaan yang benar tadi dalam alunan nada yang indah.

Kenapa nada ini menjadi penting bagi saya? Ini panjang ceritanya. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat yang agamis dimana dering jam beker tidak lagi saya perlukan karena suara Azan Subuh adalah patokan bangun tidur saya. Selama 17 tahun pertama kehidupan saya, suara Azan Subuh inilah yang senantiasa setia membangunkan saya dari nikmatnya tidur malam. Karena Azan ini bagian dari ritual keagamaan, maka sudah barang tentu ada pegawai khusus (Muadzin) yang melantunkan Azan ini. Sudah seharusnyalah yang namanya Muadzin semestinya hafiz dengan bacaan Quran. Demikian juga halnya yang sama untuk sebutan Takmir Masjid bagi mereka-mereka yang mengelola masjid.

Sialnya, profesi Muadzin di kampung saya bukanlah jabatan favorit yang banyak diperebutkan banyak orang. Karena susahnya mencari Muadzin, maka kriteria pertama untuk mencari seorang Muadzin bukan lagi yang suaranya merdu dan tahu bacaan yang benar, tetapi kriterianya turun beberapa tingkat menjadi SIAPA YANG MAU. Belum cukup dengan syarat gila ini, ditambah lagi SIAPA YANG SUARANYA KENCANG. Apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, bacaannya tidak karu-karuan dan telinga saya menjadi pekak karena suara Muadzin yang keras ini, belum lagi ditambah dengan loudspeaker di masjid yang meraung-raung. Sudah persis suasananya seperti kapal pecah setiap Subuh. Azan yang seharusnya memberi ketenangan hati, bagi saya lebih terasa seperti raungan macan lapar yang membikin jengkel hati saja. Itu masih belum selesai. Tidak cukup dengan hanya melantunkan panggilan Azan, si Muadzin masih terus pantang mundur maju tak gentar dengan lafal yang morat-marit menyanyikan puji-pujian sambil menunggu iqomah……. “Subhannallah…walhamdulillah…wala illa …dst”……………. Walaaaah salah apa kampung saya ini…

Kalau sudah memasuki urusan ritual keagamaan, kebanyakan dari kita lebih suka bersandar pada statement “yang penting khan niatnya”. Salahkah pernyataan itu? Tidak ada yang salah dari statement itu. Memang niat itu bagian dari komponen yang penting, tetapi statement itu saja bagi saya kurang lengkap. Akan menjadi lebih mendalam pemahamannya jika kita mampu mewujudkan niat tadi dalam bentuk yang lebih anggun. Dengan cara melafalkan yang morat-marit, yang seharusnya dibaca panjang malahan dibaca pendek atau sebaliknya, nyeleneh nadanya, pitch yang naik turun, saya yang seharusnya berterima kasih karena suara Azan ini, yang kejadian malah sebaliknya. Organ tubuh saya secara otomatis menjadi gelisah dan menggigil kalau sudah mendekati pukul 4 pagi. Maklum saja, jarak antara rumah dengan masjid kurang dari 100 meter. Sudah dapat dipastikan wajah saya dalam tidur berubah menjadi murung, badan keringatan dan mulut siap-siap untuk ngedumel, kuping saya tutup rapat-rapat dengan bantal sampai suara Muadzin-nya selesai. Itu masih belum seberapa, tetangga sebelah rumah saya malah ikut teriak-teriak kalau jam 4 pagi untuk menyaingi suara Azan di masjid. Itulah 17 tahun pertama kehidupan saya. Bagaimanapun juga, saya masih salut dan terima kasih dengan Muadzin yang pantang mundur ini. Terakhir saya mendengar khabar tentang Muadzin ini dari orang tua saya bahwa profesi Muadzin ini masih ditekuninya sampai sekarang. Kalau anda bertanya, “Sudah seberapa jauh meningkat kualitasnya?” Jawaban saya no comment saja.

Tentang alunan bacaan Quran, saya percaya bahwa Quran memang ditulis dengan bahasa Arab, tetapi saya berkeyakinan juga bahwa tidak berarti Quran hanya boleh dilagukan dengan dialek Arab. Ketika saya sholat di Masjid Agung Yogjakarta di awal tahun 1990an, saya merasakan nikmat lantunan suara Imam dengan cengkok (pitch) irama gending Jawa dalam bacaan Al-Fatihah dan surat-surat dalam bacaan sholatnya. Wah nikmat sekali saya mendengar alunan nada itu. Kalaulah saja waktu itu si Imam membaca surat Al-Baqarah pun, saya akan ladeni dia karena memang bacaannya yang indah. Untung saja, tubuh saya tidak ikut meliuk-liuk berjoget karena terhipnotis suara yang merdu itu. Belum pernah saya menemukan hal seperti itu di daerah yang lain. Saya tidak tahu apakah ini berhubungan dengan cara masuknya Islam di tanah Jawa, atau hanya kebetulan saja karena saya orang Jawa sehingga kuping saya merasa seirama dengan nada yang dilantunkan oleh si Imam. Jadi, tentunya boleh saja melantunkan Quran dengan logat atau dialek Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Batak, Kalimantan, dll. Ini akan memperkaya khasanah pemahaman kita. Jadi apa sebenarnya yang unik dari mengaji ini? Yang unik ternyata, berbagai macam logat ini akan hilang kalau kita memasuki arena yang namanya Tilawatil Quran. Pada ajang inilah, Quran hanya akan dibaca dengan bacaan yang sama dan universal. Wallahualam.

Maka tibalah saatnya sekarang, setelah hampir 20 tahun kemudian, ketika saya menginginkan anak-anak saya belajar membaca Quran, selain menginginkan mereka membaca dengan benar, saya juga menginginkan mereka mampu melantunkannya dengan cantik sehingga saya tidak perlu menutup kuping kalau mereka mengumandangkan Azan atau membacakan ayat-ayat suci ini di rumah.

Dan ternyata, anak-anak jaman sekarang ini memang pesat sekali kemampuannya. Entah karena memori mereka yang masih fresh, 1024 MB, atau memang saya yang kolot dan masih kaku dengan lidah Jawa saya. Kurang dari dua bulan, sekumpulan anak-anak yang ikut pengajian ini sudah fasih dan mampu membedakan mana yang harus diucapkan da, mana yang dza, mana yang harus qo mana yang kho dan seterusnya. Itu masih belum seberapa, mereka dengan enak saja melantunkan ucapan dengan suara dengung ketika huruf nun mati (sukun) atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf tertentu. Uedan tenan….. sudah sekian langkah rupanya saya tertinggal oleh anak-anak saya. Wah… harus ada action plan kalau begini ceritanya.

Hari Sabtu yang lalu, dengan susah payah, akhirnya berhasil juga membentuk alliance para orang tua yang mengantar anak-anaknya mengaji setiap hari Sabtu di musholla untuk membentuk group sendiri para orang tua, dengan bahasa propaganda yang halus, “Para orang tua berkumpul untuk mereview kembali bacaan Quran yang benar”. Tentunya beragam alasan yang ada sebenarnya. Ada orang tua yang sebenarnya bisa baca, tetapi suaranya memang pas-pasan. Ada yang dulunya bisa membaca, sekarang menjadi lupa karena frequensi pemakaian kesehariannya. Ada orang tua yang sebenarnya memang tidak bisa membaca Quran sama sekali. Jangankan membaca Quran yang hurufnya sudah sambung menyambung, untuk membedakan sho dengan dho saja, masih bingung dan harus checking urutannya dengan mulut komat-kamit membaca huruf dari depan mulai Alif, Bak, Tak, Tsa,…dst. Terlepas dari itu semua, paling tidak persekutuan orang tua ini telah menunjukkan semangat mau belajar sekaligus berupaya untuk menutupi kelemahannya dengan anyaman benang cantik “Review cara membaca Quran dengan benar”.

Sabtu kemarin tentu sangat berbeda dengan hari-hari sabtu sebelumnya. Untuk itulah tulisan ini saya munculkan. Bukan karena iseng tetapi merupakan pembelajaran dari konsep Boomerang. Challenge yang jelas menghadang di depan adalah tantangan dari anak-anak saya kepada ayahnya ini untuk melakukan hal yang sama, yaitu membaca Quran dengan benar ditambah dengan alunan suara yang indah. Jangan jangan ayahnya ini bisanya cuma ngomong saja, banyak ekspektasi-nya, tetapi tidak mampu mem-praktek-annya. Isn't it? (Prahoro Nurtjahyo, 16 Juli 2006).

Monday, November 07, 2005

Mencari Investor ke US

Saya akan mengawali tulisan ini dengan sebuah statement “Tidak ada suatu bangsa yang maju karena bantuan oleh bangsa lain” Sama artinya juga “Majunya suatu bangsa sangat tergantung oleh bangsa itu sendiri. Yang bisa memajukan bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri, bukan Jepang, Australia apalagi US”. Jadi kalau ada bantuan atau hibah dari negara lain, janganlah cepat-cepat kita bersuka cita, pesta kenduri atau syukuran. Tim pemerintah pulang disambut dengan suka cita karena berhasil hutang sekian trilyun dari negara donor. Lho.. ini ada logika yang terbalik. Mengapa? Karena pada saat yang sama artinya kita telah jatuh pada mata rantai yang namanya “tergantung”. Dalam bahasa pasar, kita mengenal rentenir. Ini sama saja. Memangnya negara yang mau membantu atau yang memberi hutang tidak menginginkan sesuatu untuk kembali? Kalau mereka memberi “hibah” 3 Milyar, benarkah itu free? Get real! Saya yakin 100% bahwa apa yang nanti akan dia peroleh jauh lebih besar dari 3 Milyar. Negara yang ekonominya bersandar pada azas capitalism, maka konsep dasarnya jelas, there’s no such a free lunch!
Mari sekarang perhatian kita alihkan ke kota Houston dalam kaitannya dengan industri migas. Sebagai kota pusat energi dunia, maka sudah sepantasnya jika Houston menjadi sentral bagi siapa saja, khususnya pebisnis, yang bekerja di bidang energi. Selain karena sebagian besar headquarter perusahaan minyak dunia berada di Houston, ini juga disebabkan karena kota ini sebagai tempat beberapa events penting yang bersinggungan dengan issue teknologi terkini. Houston adalah leading edge dari semua pergerakan yang bersentuhan dengan energi. Kita ambil contoh OTC (Offshore Technology Conference). Konferensi yang dimulai sejak akhir 60an hingga kini diselenggarakan pada minggu pertama bulan Mei setiap tahun. Events ini adalah events yang menyatukan semua element yang bersinggungan dengan energi di seluruh dunia. Jadi adalah hal yang lumrah, jika orang berebut informasi tentang energi pastilah dia datang atau mencari tahu ke kota ini. Maka sangatlah tidak relevan jika menginginkan informasi terkini tentang industri migas kemudian melakukan kunjungan kerjanya ke kota lain. Misalnya pergi ke Temanggung, Jawa Tengah atau ke Gunung Kawi, Jawa Timur. Lha ngapain mereka kesana? Mencari Jimat?

Rentetan peristiwa

Baru-baru ini Houston kedatangan tamu dari Indonesia yang berkeinginan untuk mencari investor untuk bidang energi berkenaan dengan beberapa proyek yang ada di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan energi. LNG adalah salah satunya proyek yang ditawarkan.

Kali ini saya tidak tertarik untuk ngrusui (baca: mengganggu) mereka yang datang. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk menyibak kembali perjalanan peristiwa yang pernah ada di US yang mengkaitkan antara Indonesia dan US terutama yang bersinggungan dengan migas dan apa yang dihasilkan dari rentetan peristiwa itu.

Tahun 2001, di Houston, Texas pernah diadakan HED (Houston Energy Dialog), yang salah satu fungsinya ingin menarik investor di bidang migas. Hadir pada kesempatan itu adalah Megawati (Presiden waktu itu) dan SBY (Menko Polkam waktu itu). Apa hasilnya? HED ini ikut tenggelam seiring dengan waktu yang berjalan. That’s it.

Akhir bulan September 2003, masih di tempat yang sama di Houston, Texas, pernah diselenggarakan Simposium tentang Masa Depan Dunia Perminyakan Indonesia. Hasilnya telah dirumuskan dan dibukukan kemudian diserahkan kepada ketua IATMI Pusat waktu itu (sekarang Ketua BPMIGAS). Dan kita semua tahu, follow-upnya adalah nol. That’s it and had been done.

Tanggal 25 Mei 2005, SBY bertemu dengan Bush di Washington D.C. untuk menghidupkan kembali suasana yang sudah 8 tahun vacuum akibat “sanksi militer” US. Jadi ibaratnya, Indonesia selama ini adalah anak yang nakal, maka oleh US, Indonesia ini dihukum karena tidak manut. Bagian mana yang tidak manut? Salah satu yang diangkat ke permukaan oleh US adalah beberapa kejadian tentang pelanggaran HAM di Indonesia (Kasus penculikan, Timor Timur, Ambon, Palu, dan Aceh). Sehari setelah pertemuan antara kedua pemimpin negara itu, tanggal 26 Mei 2005, diteruskan dengan Energy Policy Dialogue antara US dengan Indonesia. Intinya mereka membahas tentang kemungkinan investasi bidang energi khususnya tenaga listrik, minyak dan gas bumi di Indonesia. Dari pihak pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri BUMN Sugiharto dan Dirjen Minyak dan Gas Bumi, Iin Takhyan. Guna mem-follow up hasil Energy Policy Dialogue bulan Mei 2005, diadakan pertemuan lagi kelompok kerja di Jakarta tanggal 29 Agustus 2005. Sudah barang tentu, there’s no such a free lunch. Salah satu yang juga ikut “terselesaikan” adalah kasus Cepu.

Tamu-tamu yang datang ke Houston pada tanggal 3 Oktober 2005 kemarin, apapun kapasitas yang diwakilinya, kalau mereka datang mewakili pemerintah maka sudah waktunya untuk mengirim pesan ke boss yang mengirimnya dengan isi, “Pak boss SBY, sebaiknya kita benahi yang ada didalam dulu, baru kita road show keluar”. Sementara itu, kalau mereka datang mewakili kelompok bisnis tertentu maka sebaiknya anda meluruskan kembali niat anda dan memegang teguh prinsip win-win solution antara kedua negara. Tidak ada satupun bangsa yang maju karena bantuan negara lain. Kalau Indonesia ingin maju, maka yang bisa membawanya maju adalah rakyatnya sendiri, bukan hutang ke negara lain.

Mencari informasi ke Houston adalah langkah yang benar. Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana mereka mengetahui permasalahan Indonesia secara macro yang mempunyai ekses langsung di bidang energi? Sudahkah tim yang datang ke Houston ini memperlajari hasil-hasil yang pernah dikeluarkan oleh event sebelumnya. HED misalnya. Apakah hasil dari HED pernah dievaluasi? Disosialisasikan? Saya kok jadi sangsi bahwa kedatangan tim ini adalah satu paket dengan kunjungan dari SBY ke US akhir bulan Mei kemarin. Jadi sebenarnya hanya embel-embel saja. Kalau dalam istilah tinju, inilah yang disebut dengan partai tambahan alias bukan pertunjukkan utama. Karena embel-embel sifatnya jadi sebenarnya bukan partai yang menarik untuk ditonton. Dimunculkan untuk melengkapi persyaratan ceremonial saja karena big fish nya sudah tertangkap.
Belajar dari Negara lain
Kebanyakan pemimpin kita tidak mempunyai hobi membaca. Membaca apa saja, baik itu secara harfiah membaca maupun beyond dari membaca (pada level analisa), mulai dari keadaan perkembangan di tanah air, tingkat regional maupun internasional. Ini adalah kelemahan utama pemimpin kita sehingga analisanya cekak alias tidak cukup dan berakibat tidak mumpuni dalam bidangnya. Apa hasilnya? Hasilnya adalah pemimpin kita tidak pandai belajar dari sejarah atau pengalaman yang pernah terjadi. Tak terhitung sudah berapa model kerjasama yang dipakai baik antar negara atau perusahaan yang berakhir dengan win lose solution yang berdampak pada jutaan rakyat Indonesia. Selain karena lemahnya kualitas pemimpin, juga disebabkan karena urusan perut masih menjadi hantu bagi mereka. Takut kelaparan karena kehilangan pekerjaan.

Mari kita lihat contoh bagaimana dua negara, Libya dan Venezuela, melakukan strateginya yang indah dan elegan untuk menjaga suatu martabat dan harga diri sebuah bangsa.

Akhir bulan September 2005, Menteri Energy Libya mengumumkan secara terbuka bahwa negaranya memerlukan dana investasi sekitar USD 20 Billion untuk mengeksploitasi minyaknya. Libya yang saat ini memproduksi minyak sekitar 1.7 juta Barrel per hari ingin meningkatkan produksinya menjadi lebih dari 3 juta Barrel per harinya pada tahun 2015. Untuk “iming-iming” kepada para investor, mereka menunjukan beberapa lapangan yang mereka miliki dimana hanya memerlukan biaya produksi kurang dari USD 1 per Barrelnya. Dengan harga minyak sekarang yang di atas USD 60 per Barrel, maka sudah barang tentu ini merupakan tawaran yang layak untuk diperhitungkan bagi para investor. Libya yang terkena embargo ekonomi dari US sejak tahun 1989 menawarkan sumur mereka ke Shell (Belanda) dengan system sharing contract. Kenapa tidak ditawarkan ke US? Jawabannya adalah “Kenapa harus ditawarkan ke US?”

Venezuela adalah salah satu negara yang mempunyai sumber minyak terbesar didunia diluar kawasan Timur Tengah selain Rusia. Dengan jumlah penduduk sekitar 25 juta, maka sangatlah ironis sebagai negara kaya minyak, sejak tahun 1970 sampai 1998, mengalami penurunan tingkat ekonomi yang drastis. Selama periode itu, jumlah penduduk miskin meningkat dari sepertiga populasi menjadi setengah dari populasinya. Hugo Chaves memegang kendali sebagai Presiden selama dua kali. Pertama kali menjadi presiden tahun 1999 dan pernah di-kudeta tahun 2002. 

Pada tahun 2004, Hugo kembali memegang kendali dan menggunakan hasil penjualan minyaknya untuk pembangunan sekolah, rumah sakit dan pengadaan pasar murah. Langkah sederhana yang sangat mendasar dan mempunyai dampak langsung kepada apa yang dibutuhkan rakyat Venezuela. Kebijakan Hugo ditentang oleh para lawan politiknya. Bahkan beberapa kebijakan dia pernah digoyang oleh lawan politiknya dengan menutup industri minyak selama 63 hari. Bayangkan saja, akibat penutupan ini pendapatan negara Venezuela raib hampir separoh dari total pendapatannya. Hugo Chaves dapat bertahan dari gangguan dalam negerinya dan sekarang masih menjadi Presiden. Meskipun banyak dikecam oleh para pengamat ekonomi di negaranya, namun kesuksesan Huga Chaves dalam hal mengentaskan kemiskinan, terutama sekolah dan kesehatan, tidak dipungkiri oleh lawan-lawan politiknya. Oleh rakyat Venezuela, Hugo disambut sebagai pahlawan, sementara oleh Washington, Hugo dianggap sebagai perusak skenario. Bahkan beberapa kebijakannya dituding sebagai salah satu penyebab kenaikan harga minyak dunia. So What? Kepada siapa Hugo harus berpihak? Kepada rakyatnyakah atau kepada Washington D.C.? Kalau cadangan minyak Venezuela itu habis karena untuk memberi makan rakyatnya yang lapar, mengobati rakyatnya yang sakit, memintarkan rakyatnya yang bodoh, maka itu sudah hal yang sangat logis dan masuk akal. Bukankah memang begitu seharusnya? Memanfaatkan hasil bumi untuk kemakmuran rakyatnya. Perkara dia lebih senang berteman dengan Fidel Castro daripada dengan Geroge Bush, itu perkara lain. Orang yang “waras” akan meletakan prinsip win-win solution sebagai dasar suatu kerjasama. Barangkali, Hugo Chaves merasakan win-win solution ketika dia bekerja sama dengan Kuba daripada dengan US. Apapun bentuk kerjasama yang ingin dilakukan, ketika win-lose solution yang terjadi, maka sudah terjadi proses pembodohan dalam kerjasama itu.

What should we do?

US adalah negara pengagum ajaran demokrasi. Akal dan nalar adalah “tuhan” mereka. Ketika Indonesia harus deal dengan US, marilah kita mengunakan akal dan nalar yang benar. Permasalahan dasar kita adalah beranikah pemimpin kita bermain dengan cara bermainnya bangsa ini? Adakah kualitas pemimpin kita yang mampu untuk bilang TIDAK untuk hal-hal yang tidak masuk akal? Apakah ini semua disebabkan karena kita yang memiliki budaya timur? Wah… kok nelongso sekali bangsa kita ini. Jadi karena kita berada dalam budaya dunia timur, maka kita harus lemah, manut dan nrimo. Why? Inilah mental yang harus kita hilangkan. Bisnis adalah bisnis. Tidak ada istilah “lancang” atau “kurang ajar”. Yang ada adalah make sense atau nonsense. Kalau bule main tunjuk di depan kita, apa tidak bisa kita tunjuk hidung mereka? Mari kita tunjukkan bahwa kualitas anak bangsa ini melebihi kemampuan mereka.

Bahwa US adalah negara maju, kita tidak menutup mata. Tetapi tidak harus dengan menghambakan diri atau meletakan harga diri ditelapak kaki mereka untuk mengemis minta hutang kepada mereka. Cara-cara seperti ini yang merusak prinsip-prinsip bisnis yang ada di Indonesia. Inilah mental penjilat, atau kalau meminjam istilahnya Kwik Kian Gie, mental Inlander.

“Jangan Tinggalkan Sejarah”. Sejarah juga yang mengajarkan kepada kita betapa J.F. Kennedy mengagumi anak Indonesia yang bernama Soekarno. Kagum bukan karena basa-basi, tetapi karena presiden Soekarno telah menempatkan harga diri bangsa Indonesia di atas kepentingan pribadinya dalam deal dengan negara lain. Se-melarat apapun dia, kalau masih punya harga diri, itu jauh lebih berharga daripada para penjilat pantat boss atasannya. Menjijikan sekali.

Dahlan Iskhan dalam tulisannya di Jawapos (edisi 13 dan 14 Oktober 2005) mengkritisi apa yang terjadi dalam tubuh pemerintahan sekarang ini. Antara lain, para menteri yang tidak terkoordinasi dan tumpang tindihnya wewenang antara menteri satu dengan yang lain. Saling menyalib antara Presiden dengan Wakil Presiden karena rebutan pengaruh. Negara ini memang seperti angkutan umum yang digunakan seenaknya untuk memenuhi setoran tertentu kepada pemesan tertentu pula.

Minyak dan gas bumi adalah komoditi pilihan. Tanpa dijajakanpun, akan banyak orang yang antri daftar untuk membeli. Jadi, benahi dulu apa yang ada dalam rumah tangga kita sebelum kita “jalan-jalan” menjajakan barang dagangan ini ke tetangga kanan kiri. Pelajari semua permasalahan kita, terutama tentang aturan dan hukum yang masih abu-abu. Jadikan suasana yang nyaman untuk investasi. Buktikan bahwa berita yang beredar diluar adalah berita yang salah, terutama tentang semaraknya praktek pe-malak-an, baik proyek, hutang atau sumbangan. Bagaimana akan nyaman perasaan investornya kalau tahu-tahu ada bom meletus? Bagaimana investor akan tahu berapa USD dia akan invest kalau banyak dana siluman tak pasti yang harus masuk dalam pembukuan tanpa kuitansi? Lha wong barang sumbangan untuk korban Tsunami di Aceh saja, untuk mengeluarkan dari Belawan masih harus membayar ke masing-masing kantor terkait dan njlimet sekali urusannya. Sudah menyumbang, masih ditarik uang lagi untuk mengeluarkannya. Edan….. It does not make sense at all.
Bahwa Indonesia memerlukan pemimpin yang berani dan tegas adalah persyaratan yang mutlak harus dipenuhi. Sementara itu, yang kita jagokan untuk menjadi pemimpin lebih tenang dan aman kalau ikut dalam barisannya makmum. Teman-teman satu angkatan yang diharapkan turut bahu-membahu banyak yang berkomentar “Ya sudah sanalah kalau berjuang, saya nanti akan bantu dengan doa”. Saya bukan tidak percaya dengan doa. Doa adalah the lowest point yang kita lakukan ketika kita diberi kekuatan oleh-Nya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari sebuah doa. Lakukan sesuatu terlebih dulu, kemudian mari berdoa bersama-sama. Bukankah kita dipintarkan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik untuk masyarakat di sekeliling kita? Bukankah sudah cukup waktu untuk menjadi penonton dan sekarang gilirannya menjadi pemain? Ini masalah perut jutaan rakyat Indonesia. Membiarkan umat keleleran adalah salah satu bentuk membiarkan kemunkaran tanpa solusi. Sementara kita berada dalam lingkaran itu dan tidak melakukan apa-apa? Ada kewajiban bersama yang seharusnya kita bersama-sama harus melakukannya.

Terlalu banyak barisan yang hanya merasa cukup sebagai makmum saja ketimbang take the lead sebagai imam. Sementara yang seharusnya cocok hanya sebagai makmum malah memaksakan diri tampil sebagai imam. Sudah waktunya kita bermain sesuai makom-nya. Bagaimanapun kumalnya sebuah peci, itu tempatnya harus dikepala. Dan untuk sepatu, apakah itu merknya Bally, Reebok atau Rockport, tempatnya harus dikaki. Kita terlalu sering melihat sepatu di kepala sementara peci kita jadikan sebagai alas kaki. (Prahoro Nurtjahyo, 7 November 2005)

Sunday, August 28, 2005

Dari ExxonMobil sampai Mental Anak Bangsa

Kalau Kwik Kian Gie (KKG) menyinggung kasus ExxonMobil di Cepu tanpa menyebut kasus Ambalat sebagai bagian dari prolog analisanya, maka ada hubungan causal yang kurang lengkap dari sisi pembekalan materi kepada para pembacanya. Kalau ternyata pada akhirnya barter antara kasus Ambalat dan kasus Cepu menjadi timpang atau tidak sepadan nilainya, itu adalah permasalahan yang lain lagi. Walaupun aneh kedengarannya, itulah kenyataan yang ada di negara kita. Kedaulatan dan harga diri kita telah terlilit oleh “chain reaction” sehingga urusan A terkait oleh urusan B dan urusan dalam negeri tergantung sekali dengan campur tangan negara asing.

Semuanya sangat tergantung dengan hutang luar negeri, tidak percaya diri, sehingga mudah menjadi permainan bangsa lain karena bargaining power yang keropos. Apakah kita ini mudah diacak-acak oleh bangsa lain karena kita bodoh? Atau karena kita memang sudah tidak peduli lagi dengan hidup matinya bangsa ini? Atau jangan-jangan kita semua ini sudah menjadi futuristic bahwa yang penting adalah kehidupan akhirat? Futuristic? Ah rasanya kok tidak. Masih mending kalau futuristic. Ini sudah pada level masa bodoh. Atau inikah yang kita pahami selama ini dengan konsep “Hablul Minannas”?
Dua Ekstreem
Pasca dinasti Suharto jatuh, Indonesia menjadi eksperimen dari para “reformis”. Berbekal dengan konsep bernegara yang kabur dan situasi yang rentan pecah pada saat itu, telah memberikan kesempatan para oportunis untuk memasuki gelanggang percaturan politik Indonesia yang sejak lahir (1945) memang sudah rawan untuk pecah. Asal memakai label kata-kata reformasi, maka semua tindakan seolah telah memperoleh sertifikat halal dan benar.

Menjelang jatuhnya Suharto pada tahun 1998, hubungan antara pemerintah Indonesia pada waktu itu dengan IMF memang sudah tidak mesra lagi. Apalagi ada track record dari Suharto yang pernah “membubarkan” IGGI (institusi negara pemberi hutang kepada Indonesia) sehingga IMF menjadi ketar-ketir juga kalau nanti “dicerai” oleh Suharto. Berbeda dengan IGGI atau CGI, IMF datang ke negara kita dengan membawa bendera Persatuan Bangsa Bangsa (UN) melalui slogannya “menolong negara miskin” akibat krisis moneter. Dengan misi ini, di Indonesia, IMF mempunyai banyak “santri” yang taat mengikuti ajarannya, terutama mereka-mereka yang duduk pada level pejabat pemerintahan. Jatuhnya Suharto membawa dampak ease the pain para boss IMF, sehingga turut mendongkrak para “santri”nya untuk naik pentas.

Pada jajaran elite di tingkat atas, muncul dua ekstreem yang masing-masing meyakini nilai-nilai yang dibawanya. Sebut saja, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie dkk (sebagai pemeluk ajaran IMF) di satu ekstreem yang menitik beratkan pada azas ekonomi ala pasar. Konsep ada uang ada barang. Bayi nangis sekarang, cepat-cepat di kasih dot susu. Sementara KKG dan Rizal Ramli di ekstreem yang lain, lebih melihat dampak jangka panjang.

Sri Mulyani dkk melihat faktor lapangan adalah variable utama. Mereka lebih senang kalau mendengar si bayi tidak menangis sekarang. Sementara KKG dkk lebih melihat bagaimana kondisi kedepannya. Lebih baik si Bayi menangis sekarang tetapi bisa hidup sampai 65 tahun lagi daripada si Bayi hidup sekarang dan belum tentu bertahan hingga usia 10 tahun.

Menurut Sri Mulyani dkk, hutang diperlukan karena kita sedang membangun dan tidak mungkin diputus ditengah jalan. Ada sesuatu yang harus dikorbankan (jika memang perlu) untuk menggapai sebuah harapan (?). Rakyat kelaparan pada detik sekarang ini adalah fact. Sedangkan bagaimana realita 5, 10 atau 20 tahun kedepan bukan prioritas utama dari analisa Sri Mulyani dkk. Harga minyak naik sekarang ini adalah juga kenyataan. Sri Mulyani dkk tidak akan menganalisa harga BBM 5 tahun kedepan, karena banyak variable yang nantinya akan berubah selama lima tahun kedepan. Maka tidaklah heran, ketika madzab ini berkuasa, banyak BUMN kita dijual untuk menjadi abdi dalem (hambanya) dari ndoro IMF.

Beberapa komentar menyebutkan bahwa KKG terlalu idealis, kaku dan tidak melihat kondisi yang ada di lapangan. KKG selalu menghembuskan isu nasionalisme dan patriotisme untuk merebut simpati dari para kalangan menengah ke bawah. Saya cenderung setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ”Sri Mulyani dkk lebih condong pada kehidupan sehari-hari (ekonomi pasar), sementara KKG lebih menempatkan azas pemanfaatan ekonomi berdasar pada ego kepemilikan”. Kuasai dulu semua Sumber Daya Alam (SDA) yang menguasai harkat orang banyak. Infrastructure bisa diperolehnya sambil berjalan. KKG mengajak semua elemen untuk menjadi bagian dari proses. “Menderita” di awal adalah salah satu bagian yang namanya proses. Hanya saja, Madzab-nya KKG ini gagal mengimplementasikan teorinya pada level atas. Teori yang ditawarkan oleh KKG, Stick and Carrot, tidak mendapat sambutan yang positif dari para koleganya. Kenapa? Karena kalau diaplikasikan, akan terlalu banyak Stick-nya daripada Carrot-nya. Penjara yang diharapkan akan diisi oleh para koruptor ternyata akan lebih banyak dan lebih dulu diisi oleh para jaksa, hakim dan polisi.

Mapping SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia

Kharakter bangsa kita memang unik. Jangan terlalu banyak berharap untuk menjadikan bangsa ini melek jalan pikirannya hanya dengan melalui sebuah Seminar, Simposium, atau Rapat Kerja. Sudah dimaki di depan mata saja, masih nggak ngerti juga apa kesalahannya. Makanya, janganlah memakai bahasa yang halus, sindiran atau kalimat bersayap untuk mengajak melek bangsa ini. Coba keluarkan semua nama binatang di Kebun Binatang, Jangkrik, Anjing, Kecoa, dll., maka tidak akan mengubah hasil akhirnya.

Ada time frame dan mapping SDM yang padu diantara mereka yang masih peduli dengan keberlangsungan hidup dari bangsa ini. Salah satu kelemahan yang ada antar generasi adalah missing link sebuah nilai. Tidak ada tali penyambung konsep bernegara antara pendiri republik ini dengan penguasa sekarang ini. Sukarno, Hatta, Syahrir dan sederetan tokoh pendiri bangsa gagal mentransfer sebuah nilai yang sekarang diartikan lain tentang makna dari berjuang untuk rakyat.

Sepuluh tahun atau dua periode pemerintahan yang akan datang adalah waktu yang tepat untuk kembali menata sendi-sendi pemerintahan dan sosial kemasyarakatan kalau kita masih mau membangun bangsa ini. Mengapa 10 tahun lagi? Paling tidak ada 3 skenario:

1. Mengkikis nilai lama melalui jalan yang “damai” atau alami.Sepuluh tahun lagi, para pejabat pemerintahan yang saat ini berusia 55 tahun akan pensiun. Dengan lengsernya para sesepuh ini, akan ada power shift terhadap nilai-nilai lama yang selama ini dianggap memperlambat perubahan. Disadari atau tidak, masih saja ada perasaan ewuh pekewuh, sungkan untuk mengkritik atau menyampaikan message ke para senior kita. Dengan dalih menjaga adat istiadat dan berlindung pada selimut budaya timur (Apa sih sebenarnya budaya timur ini???), maka sesuatu yang straight to the point disebut sebagai tindakan kasar, hilang budaya, sok kebarat-baratan, dan masih banyak lagi.

2. Memfilter SDM kita yang saat ini berusia 45 tahun yang akan naik posisi.
Ini berarti sepuluh tahun lagi, mereka-mereka kelahiran 1960an akan memegang kemudi kendaraan Republik ini. Transisi antara generasi sepuh dengan angkatan ini (kelahiran 60an) memerlukan enforcement untuk membuat benang merah antara professional di bidangnya dengan para karbitan atau kelas kacangan.

3. Menyamakan misi dan visi para SDM yang saat ini berusia 35 tahun.
Generasi ini yang mulai sekarang harus sering digesek atau diadu konsepnya untuk menyamakan visi dan misi berjuang untuk rakyat. Sehingga sepuluh tahun lagi, posisi mereka (sudah Manager) merupakan kekuatan yang dahsyat karena jumlah mereka yang se-paham sudah melebihi senior mereka yang saat itu memegang kendali. Apa kendalanya? Mental bobrok di masyarakat kita sudah pada level yang sangat membahayakan dan seharusnya ada warning nasional tentang bahaya laten ini. Budaya paternalistic yang sendiko dawuh, manut, nrimo akan selalu defensive terhadap nilai baru yang ditawarkan apalagi kalau mengancam keselamatan posisinya. Artinya, generasi yang saat ini berusia 55 tahun sudah menghasilkan ribuan kader dengan mentalitas yang tidak kalah busuknya dibandingkan para seniornya yang akan menutup semua celah untuk menuju perubahan. Ini tantangan kita semua.

Tentunya semua itu harus juga dibarengi dengan mapping orang-orang yang professional dibidangnya, mempunyai visi dan misi yang sama tentang bagaimana membangun bangsa ini. Kalau pulang kampung tanpa ada kejelasan konsep akan kemana bangsa ini berjalan, ya sami mawon. Sampai kapanpun kita akan seperti ini terus.

Saatnya untuk bertempur

Kalau saja bangsa ini kuat, Malaysia tidak dengan seenaknya saja mencoba “bermain” dengan Ambalat setelah mereka “dimenangkan” atas pulau Sipadan dan Linggitan. Banyak masalah yang cepat atau lambat akan muncul ke permukaan terutama yang berkaitan dengan batas wilayah kedaulatan negeri ini. Dengan Singapura misalnya, pengerukan pasir yang lambat laun akan menenggelamkan pulau terdekat kita dengan Singapura. Kelak Singapura akan meng-klaim batas wilayahnya bertambah jika pulau itu sudah tenggelam akibat pasirnya sengaja “digunduli” mengacu pada zona laut (3 miles dari garis pantai). Cepat atau lambat, batas wilayah Malaysia dengan Indonesia akan mencuat lagi terutama diperbatasan Serawak. Patok batas negara yang sudah tidak jelas lagi sekarang, bahkan sudah banyak muncul pasar di daerah perbatasan dengan mata uang ringgit sebagai nilai tukarnya. Belum lagi kasus kepulauan di NTT yang oleh juru bicara Kementrian Luar Negeri di-klaim bukan wilayah Indonesia karena alasan dulunya merupakan bekas jajahan dari Inggris. Masih banyak lagi sederetan permasalahan yang ruwet ….

ExxonMobil di Cepu adalah salah satu contoh lemahnya mental anak bangsa. Akan muncul kasus serupa kalau kita tidak aware, well prepared dan bersikap ksatria untuk menghadapinya. Permasalahan besar kita adalah menyamakan visi dan misi tentang bagaimana membangun bangsa ini. Karena pada akhirnya yang akan “bersinggungan” adalah antar anak bangsa sendiri maka Enforcement dari pemegang kekuasaan adalah syarat mutlak yang harus dipersiapkan. Semoga saja, pemerintah mempunyai blue print tentang kemana bangsa ini akan dibawa dan mapping SDM kita yang saat ini bertebaran kemana-mana. Bagaimana kalau tidak ada “blue print”-nya? Ya ganti saja tintanya, jadi black atau yellow. (Prahoro Nurtjahyo, 28 Agustus 2005)