Tuesday, August 26, 2014

Memilih Presiden (ala Cak Nun)

Hari Sabtu kemarin saya sempatkan untuk mendengar keluh kesah tentang PEMILU di negeri ini dari teman-teman di kampung. Bisa jadi, sampeyan sudah pernah membaca tulisan ini. Sengaja saya comotkan tulisan EMHA ini dan sisipkan dalam blog celometan ini, untuk meminta kata "Aamiin" ketika sampeyan selesai membacanya.  Peace dan salam tiga jari :-) Wallohualam (Prahoro Nurtjahyo, Selasa 26 Agustus 2014)
===========================
Essai:  Emha Ainun Nadjib (21 Maret 2014)
Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak. 
Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.


Friday, June 27, 2014

Ramadhan vs Pesta Demokrasi

Dua kali saya diberi kesempatan untuk dapat memulai hari pertama Ramadhan di tanah air. Tepatnya di Jakarta. Yang nota bene justeru bukan tanah kelahiran saya. Tapi memang begitulah, semakin mantap keyakinan saya bahwa setiap gerak manusia sudah ada yang mengaturnya. Bahkan, seberapapun njlimet rencana yang disusun, plus segudang mitigasi plan yang dipersiapkan, Allah Yang Maha Berkehendak atas semua tetek bengek rencana manusia tadi. Subhanalloh.

Tahun ini, saya sudah noto mening-mening (baca: carefully plan) dengan istri dan anak-anak bahwa bulan puasa tahun ini, kami akan fokuskan di Masjid kampung dekat rumah. Sudah terbayang, sholat Tarawih yang panjang dan berakhir pukul 12 malam, suasana 10 malam hari terakhir iktikaf "camping" di Masjid, iftar keroyokan, dan lain-lain.

Walhasil, hari ini saya mendarat di Bandara Internasional Cengkareng Sukarno Hatta. Perubahan rencana yang benar-benar diluar dugaan saya.

Bisa jadi saya yang salah, tetapi beberapa event kejadian kecil kehadiran hari pertama di Jakarta, cukup meyakinkan saya bahwa kota ini tidak siap untuk menyongsong bulan suci ini. Tentu, perbandingan saya adalah dengan kampung kecil dimana saya tinggal sekarang, Katy. Lha iya to? Ada lomba Azan, Speech, Sodaqoh, learning Fiqh, Seerah Nabawiyah, dll.

Saturday, May 31, 2014

Oleh-Oleh Camping


Terkadang nikmat itu datangnya bertubi-tubi dan kebablasan. Adalah tugas kita untuk membendungnya. Kalau tidak, maka besar kemungkinan kita akan overwhelm dengan kenikmatan itu dan akhirnya lupa. Kita lupa kalau ternyata yang namanya “nikmat”-pun sebenarnya adalah bagian ujian dari-Nya. Iya to?

Tidak terasa, sudah seminggu ini saya lewati kenikmatan dua malam di hutan itu. Kalau dalam tulisan ini sampeyan tidak merasakan adanya “penyesalan”, karena memang itulah yang sedang saya rasakan. Apapun kesan sampeyan tentang acara dua malam itu, bukanlah sesuatu yang penting bagi saya. Kenapa? Karena kalau saya melihat sampeyan bisa tersenyum, that is enough. Itu sudah cukup membuat saya untuk ikut tersenyum juga.

Dan saya yakinkan kepada sampeyan, ketika saya menulis di celometan ini, saya tersenyum untuk sampeyan semua karena kenikmatan yang sedang saya rasakan.

Paling tidak, saya menemukan tiga kenikmatan selama dua malam itu. Kenikmatan yang pertama adalah sharing. Ketika kami sampai di lokasi campsite, as predicted, malam datang bersamaan dengan kedatangan kami. Meskipun jauh dari awal saya sudah coba untuk meng-antisipasi-nya, toh “keributan sharing” itu tetap terjadi. Malam itu, saya benar-benar merasakan nikmat “Kalah Tanpo Wirang” (Baca: Kalah tanpa harus malu).  Sudah lama saya tidak paham dengan falsafah Jawa yang satu ini, tetapi malam itu, saya benar-benar tahu apa makna dari filsafat itu.