Monday, January 13, 2020

Kebutuhan atau Keinginan?

Ketika sampeyan dan saya yakin bahwa apa yang sedang kita ikhtiarkan saat ini akan memberikan keberkahan bersama, maka jangan pernah menyerah karena jalan untuk mewujudkannya akan serta merta terbuka dengan sendirinya. Tanpa sampeyan harus minta karena Tuhan akan memberikan akses jalan toll. 🙏

Sebaliknya, kalau rasa dan hati sampeyan masih muter-muter untuk menempatkan olah laku mana yang seharusnya dilakukan, sebaiknya sampeyan menata diri lagi agar lebih firm. Artinya, sampeyan masih binun. 😃

Kebingungan adalah buah dari ketidak-sinkronan antara apa yang pernah diungkapkan dengan perbuatan. Dan, khilaf, itu umumnya terjadi sekali. Ketika munculnya ketidak-sinkronan ini lebih dari sekali, apakah memang ini masih pantes disebut dengan khilaf atau saya sebenarnya yang salah mengerti selama ini? Akankah yang seperti ini akan berulang lagi? Embuh 🙇

If you are joking or playing around right now, then I am telling you that your jokes are not funny nor your playing are not fun. 😧

Saturday, November 23, 2019

Kebersamaan Kita (Yang Hilang?)

Ini satu dari sekian banyak video terbaik yang pernah ada. Kumpulan dari hasil Drone dan jepretan foto multi source yang di edit kembali oleh mas Irwan Dalimi. Video ini bercerita banyak tentang persahabatan, pertemanan, kekeluargaan dari komuniti kecil di kampung kami.

Saya sengaja angkat kembali setelah 6 tahun diunggah pertama kalinya di youtube, ini adalah kenangan terindah yang pernah ada antara saya dengan sampeyan semua di kampung kecil Katy. Tidak ada yang lebih indah dari kebersamaan kita. Video ini menjadi saksi bahwa kita pernah bersama di suatu masa.

-------------------------------------------------

Terkadang kita memang harus sering datang ke tempat tempat dimana dulu menyimpan kenangan. Bukan untuk mengingatkan kita akan sebuah perpisahan, tetapi untuk membuka album lama yang pernah membuat sampeyan dan saya saling membahagiakan.

Dari awal, saya tidak pernah tahu mengapa sampeyan dan saya dipertemukan. Mengapa harus dipertemukan tempat ini. Mengapa sampeyan dan saya berbagi kasih. Satu hal yang pasti ini, saya meyakininya bahwa pertemuan ini bukan sesuatu kebetulan. Yang Maha Kuasa mempunyai rencana untuk setiap makhluk-Nya. Iya to? 😉

Akan datang suatu masa, ketika jaraklah yang memisahkan kita. Dimensi ruang ini lah yang akhirnya men-dikte kita untuk bergerak di dalam radius kita masing masing. Apalagi, dengan ritme rutinitas keseharian yang semakin menggila, sebaris khabar lewat WA pun menjadi barang yang mahal, asing dan langka bagi sampeyan dan saya.

Kalau lah saya telat berkhabar, tidak berarti saya mengacuhkan sampeyan. Kalau lah saya tidak berkhabar beberapa waktu, tidak berarti saya melupakan sampeyan. Tidak. Sama sekali tidak.

Dalam sujud, saya selalu selipkan doa seperti yang dulu selalu kita panjatkan, semoga sampeyan dan saya semakin dewasa dalam menggapai cita cita kita yang belum kesampaian meskipun tanpa khabar. Karena khabar hanya seperti awan di langit. Ada dan tidaknya, langit masih saja tetap terlihat indah. Dan perasaan saya untuk sampeyan masih sama. Tidak pernah berubah. Bukankah perasaan ini juga buah ciptaanNya? Wallohulam (Prahoro Nurtjahyo, 24 Nov 2019)





Thursday, August 22, 2019

Segera Penuhi Hak Mereka

Jumat Baik.  

Kita sering bawel untuk hal hal yang sebenarnya menye-menye tetapi lupa bahwa di belakang itu semua ada pesan yang seharusnya segera dilakukan.  

Memang, sudah sepantasnya kalau posisi Hati-Mulut-Pikiran selalu tegak lurus ketika mata menemukan pemandangan yang ganjil. Mata kita dengan rajin mengirim pesan ke hati untuk bergerak dan berbuat sesuatu. Sialnya, ada saja yang membisiki kita ditengah jalan, sehingga pesan itu hilang entah kemana dan menjadikan hati kita tidak pernah terketuk bahkan untuk terbuka.  

Coba sampeyan perhatikan baik baik foto di bawah ini. Bisa jadi, beginilah orang tua kita dulu berjibaku untuk membiayai sekolah kita. Membawa dagangan untuk dijual, tanpa ada kepastian akan laku atau tidak. Panas dan lelah bukan pemandangan yang mereka tunjukkan ketika sampai di rumah. Senyum mereka selalu mengembang untuk memberi keyakinan kepada sampeyan dan saya bahwa besok masih ada yang bisa dimakan, bahwa tahun depan masih bisa sekolah lagi. 

Kalau masih saja tidak bersyukur akan nikmat yang ada saat ini, pasti sudah ada yang konslet di hati sampeyan dan saya. 

Hari ini Jumat. Hari baik. Segera-kan untuk memenuhi hak orang lain yang bisa jadi adalah kewajiban kita: sampeyan dan saya.

Saya sangat yakin Gusti Alloh tidak menciptakan sampeyan dan saya hadir di bumi ini untuk sekedar chatting jegigisan ribuan lines di WA group. Lebih dari itu, kemudahan teknologi komunikasi tentunya menuntut kita agar sampeyan dan saya lebih bermanfaat untuk orang lain di sekitar kita. Termasuk untuk Bapak yang ada di foto ini. Wallohulam. (Prahoro Nurtjahyo, Jumat Kliwon, 23 Agustus 2019).


Tuesday, August 20, 2019

Naik Kelas

Gegeran di luar sana sudah muncul. Sangat memprihatinkan. Sesama anak bangsa. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Ini sakjane masalah komunikasi biasa. Hanya saja menjadi ruwet ketika pelajaran tepo seliro hanya sebatas gagasan belaka. Menjadi lebih runyam lagi ketika ternyata tidak semua orang bisa bekerja sama. Tidak semua orang legowo untuk mengakui kelemahan diri sendiri atau ikhlas menerima kelebihan orang lain.

Banyak yang ingin memperoleh hak istimewa tanpa mau peduli kenapa hak itu “harus” ada padanya. Hhhh khan... njaluk menang e dewe 😊

Melalui media ini, saya ingin mengajak sampeyan untuk naik kelas menjadi masyarakat yang lebih melek terhadap warna dan suasana hati yang ada di sekitar kita, tanpa berprasangka atau mencela. Kalau ada informasi yang tidak sreg, lebih baik segera dikonfirmasikan kevalidannya sehingga syak wasangka itu tiada.

Mari kita budayakan membaca dengan baik tanpa ikut-ikutan kebiasaan “copy and paste” dan sebar. Wallohuallam. (Prahoro Nurtjahyo, Selasa 20 Agustus 2019)


Thursday, August 15, 2019

Persatuan itu Mahal

Saya tersenyum ketika pertama kali saya melihat video di bawah ini. Senyum bangga dan bahagia tentunya.

Paling tidak, ada dua hal yang membuat bibir saya mesem. Pertama, karena lagu ini mampu menghilangkan sekat perbedaan dan justeru memunculkan rasa persatuan. Kedua, karena lagu ini justeru dinyanyikan oleh saudara kita yang di ujung sana, dekat perbatasan.

Setelah beberapa kali berkesempatan melihat dari dekat kehidupan saudara-saudara kita ini, betapa sincere tulus mereka dalam menjalani hidup dan tidak neko-neko. Sangat bertolak belakang dengan sampeyan dan saya.

Alangkah indahnya kehidupan kita jika satu dengan yang lain saling berbagi. Sebaliknya, serasa living in hell ketika satu dengan yang lain saling membenci, saling mencaci berebut untuk sesuatu yang tidak pasti.

Sebagai warga kampung yang komunitasnya lebih kecil, dan lebih homogen, sudah seharusnya dapat belajar dari apa yang ada di sekitar kita. Tidak ada yang lebih indah dalam bermasyarakat selain dari persatuan. Karenanya, Harga Persatuan Itu Sangat Mahal. Mari kita jaga. Wallohullam, (Prahoro Nurtjahyo, 15 Agustus 2019)


Friday, August 02, 2019

Merajut Kembali Mimpi

Sampeyan dan segala kenangan yang pernah kita jalani bersama, adalah alasan bagi saya untuk akhirnya kembali dan memilih tetap di kampung ini. Embel ahh? Tuenan.. suwerr 😁

Bukan pekerjaan yang gampang untuk melupakan sampeyan semua. Ada banyak mimpi yang masih sebatas tulisan dan angan-angan. Asal sampeyan tahu, sampai saat ini mimpi-mimpi itu masih saya perjuangkan. Masih saya pertahankan.

Namun demikian, saya juga sangat memahami bahwa sesuatu yang memaksakan diri untuk lepas, maka sudah dipastikan suatu saat akan lepas. Artinya? Seberapapun besar usaha kita, dia akan lepas juga. Ini berlaku juga untuk sampeyan dan saya.

Sebaliknya, kalau sampeyan dan saya sepakat untuk menjaganya agar selalu utuh, maka InshaAlloh akan selalu bersama-sama.

Tidak ada pilihan yang dapat membuat happy semua orang. Selalu saja ada Blind Spot yang menurut kita karena kita lupa tapi sering terbaca oleh orang lain sebagai alpa. (pelan pelan ya... bacanya yang di bold 😉). Salah baca, nanti artinya jadi menclek.

Untuk itu, jika sampeyan belum merasa nyaman dengan apa yang sudah berjalan selama ini, ada baiknya sampeyan sampaikan. Saya dengan tangan terbuka membuka diri untuk sampeyan. Mau lewat WA atau ketemu muka. Email? Ketoke email wis gak jaman 😂. Saya jabani selama itu untuk kemaslahatan bersama. Wallohualam (Prahoro Nurtjahyo, 2 Agustus 2019).

Tuesday, May 14, 2019

Sepertiga Ramadhan Lewat

Hukum dasarnya adalah semua baik. Karenanya, saya yakin, ketika Gusti Alloh menciptakan segala sesuatunya tentu untuk kebaikan kita semua. Apapun itu. Iya to?

Yang kita harus bersepakat adalah dari semua yang baik tadi, selalu saja ada yang terbaik. Semuanya hari baik. Apakah itu Senin, Jumat atau minggu. Tetapi selalu saja ada hari yang terbaik di antara hari hari itu. Demikian juga dengan bulan. Semua bulan diyakini adalah baik. Namun ada saja yang disepekati sebagai bulan terbaik. Dan saat ini, kita semua berada di bulan terbaik.

Sama seperti sampeyan, saya juga berharap output apapun yang keluar dari kegiatan di bulan ini semoga menjadi yang terbaik dalam kehidupan kita tercermin dalam persona dan performa  sehari-hari. Aamiin.

Gak kroso kok yo wis  sepertiga Ramadhan sudah lewat ya 😡.  Rutinitas yang dulu ketika kita masih kecil, kita lalui di bulan suci ini, perlahan mulai ada excuse untuk ditinggalkan dengan dalih ibadah sunnah atau alasan pembenaran lainnya.

Semua excuses ini tentu akan menggerus waktu rutinitas yang dulu pernah dijalani ketika masih kecil.

Masih tergambar jelas dalam ingatan ketika menunggu waktu buka puasa dengan menanti suara “blanggur” dari masjid Jami’ Alun-Alun. Malam nya berjalan sarungan dengan teman sebaya berangkat bawa oncor ke Masjid untuk sholat Isya’ lanjut dengan Tarawih.

Belum puas dengan itu, perjalanan pulang dari tarawih masih sempat nuthuki kenthongan sambil teriak “sahur... sahur... sahur...” padahal masih jam 9-10 malam. 😁

Sepertiga Ramadhan sudah berlalu, saya belum  menemukan nikmat seperti yang dulu pernah saya rasakan. Semoga rasa itu tidak hilang dari perut bumi ini, melainkan hanya “menunggu“ kita agar lebih berpasrah diri.

Saya harus akui, Ramadhan di tanah air ini godaannya banyak. Mulai dari hal teknis seperti makanan, minuman dan jam kerja kantor yang pendek, sampai dengan hal non-teknis seperti undangan bukber. Apapun excuses yang ada bukan alasan untuk tidak menjadikannya yang terbaik.

Tahun ini, mari kita jadikan puasa terbaik yang pernah kita jalani, nderes Quran terbaik yang pernah kita katamkan, sholat Tarawih terbaik yang pernah kita ikuti, sharing (baik material maupun non-material) terindah yang pernah kita lakukan.

Kalau belum? Ya... melalui jalan toll 88 iki, monggo kita tata kembali, mumpung masih ada dua-pertiga lagi. Ojo telat maneh 🙏. Wallohualam (Prahoro Nurtjahyo, 14 Mei 2019).

Wednesday, May 08, 2019

Jaman Berubah

Para cendekia bilang bahwa setiap generasi akan mempunyai tantangan sendiri. Apa saja yang dulu kita rasakan di tahun 70an dan 80an dimasa SD-SMA tidak sama dengan yang dirasakan oleh anak anak kita yang lahir di era pasca 2000an. Betul apa betul? Iya betul lah. 😊

Video dibawah ini sangat dalam makna nya. Jangan ajarkan kepada anak kita hasil yang kita mau, tetapi value yang seharusnya dipegang.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Kita sepakat khan kalau ilmu Alloh itu tidak hanya tentang surga dan neraka. Iya to? Ilmu Alloh itu luas dan yang akan beruntung adalah mereka-mereka yang mau belajar dan menyiapkannya. Dan belajar, tidak ada batasan usia. Percaya itu. Wallohuallam. (Prahoro Nurtjahyo, 9 Mei 2019)


Sunday, April 07, 2019

Musik dan Sampeyan

Saya tidak tahu apakah sampeyan dan saya sama dalam hal musik. Ternyata rhythm dan nada musik lebih dominan bagi saya ketimbang liriknya. Saya menyukai lagu lebih dulu karena alunan nada, bukan karena liriknya.

Tidak heran kalau beberapa lagu dari Queen saya suka karena kekuatan magic di bagian melody awalnya. Demikian juga Air Supply yang belakangan baru saya sadar kalau ternyata liriknya “saru”. 😧 Lagunya Bon Jovi, 🎼 It’s my life 🎼 akan membuat kepala saya manggut manggut. Atau lagunya Nidji yang berjudul “Biarlah”, pasti akan membuat saya ikut berjingkrak-jingkrak meski di dalam mobil.

Saya percaya bahwa tidak semua musik harus ada lirik. Musik adalah bahasa hati. Munculnya karena hati, dan diperuntukan juga untuk hati.  Seperti halnya semua perasaan tidak harus dikeluarkan dengan kata kata. Iya to?

Saya menyukai arransement musik yang satu ini sudah sejak lama. Iya... musik-nya. Bukan liriknya karena memang tidak ada liriknya. Saya nggak tahu dengan sampeyan. Wallohuallam. (Prahoro Nurtjahyo, 7 April 2019).



Wednesday, October 10, 2018

Haruskah Berakhir - a prolog

Tutur bahasanya sangat lembut dan mengalir begitu saja. Terlihat seperti tidak teratur, tetapi sebenarnya dia me-nata-nya dengan hati hati dan sangat rapi. Saya khatam-kan karyanya itu pertama kali di tahun 2000 hanya dalam bilangan jam tetapi cukup membuat saya untuk menolak hampir semua catatan sejarah yang pernah diceritakan kembali di muka bumi ini. 

Karyanya telah menggelitik saya untuk ingin tahu bagaimana sebuah cerita itu seharusnya dituliskan. Tiga hari yang lalu, saya membacanya sekali lagi karya dia. Masih sama. Masih indah. Masih tertata rapi. 

Saya ingin menuliskan kembali cerita yang hilang seperti halnya yang pernah dituliskannya. Bukan hanya untuk saya sendiri. Tetapi untuk sampeyan juga. Untuk dia yang disana. Untuk mereka yang masih berdiri menonton di ujung jalan. Untuk mereka yang menatap kita dengan segala pertanyaan ini-itu. 

Saya akan menuliskannya kembali untuk orang-orang yang pernah hadir di dalam kehidupan kita. Sampeyan dan saya.

Untuk yang satu ini, saya seharusnya meminta persetujuan dari sampeyan untuk menuliskannya. Karena sampeyan memilih untuk susah dijangkau lagi, saya akhirnya memutuskan sendiri untuk memahatnya dengan hati-hati di atas permukaan layar cellphone sampeyan yang tipis ini. 

———

Seperti biasa, Jakarta selalu padat. Sudah dua tahun tiga bulan saya bergelut dengan semrawut-nya kota ini. Beberapa teman selalu menasihati untuk “dinikmati” saja. Toh… mau menggerutu-pun, tidak akan banyak berubahnya. Besok atau lusa akan macet lagi. Ditempat yang sama. Diwaktu-waktu yang sama. Yo wis…. di-jar-ke wae.

Tahun ini, hampir setengah abad saya sudah memerankan sosok manusia untuk sebuah panggung yang sudah disediakan Tuhan.  Panggung yang dengan Maha Kasih Sayang Nya diciptakan agar kita semua saling berbagi. Berbagi apa saja.

Dari tahun ini pula, saya harus menata kembali. Melihat ulang mana yang layak dikatakan sebagai ”harapan dan masih berguna untuk dipertaruhkan”, atau mana yang ”hanya sekedar mimpi di siang hari bolong yang akan hilang” karena keterbatasan memori otak manusia.

Kalau sampeyan melihat semua yang terjadi selama ini hanyalah sebuah permainan Tuhan, maka sampeyan salah besar. Tuhan tidak pernah bermain-main dalam menciptakan manusia. Tuhan sangat tahu apa yang Dia inginkan untuk semua ciptaanNya.

Iya. Ini prolog dari cerita panjang yang ingin saya tuliskan kembali di sini. 

Friday, March 09, 2018

P.A.M.I.T.

Malam itu, saya sebenarnya ingin sekali berlama-lama duduk berbagi cerita dengan sampeyan. Berbagi cerita apa saja. Bukan hanya mengulang cerita dan canda tawa masa lalu, tetapi juga bercerita bagaimana ikatan yang semestinya antara sampeyan dan saya di masa depan. 

Malam itu, saya sudah persiapkan segelas kopi kesukaan sampeyan dan sebungkus popcorn ukuran jumbo, khusus untuk mendengarkan semua uneg-uneg yang mungkin akan keluar dari mulut sampeyan. Sayangnya, semua rangkaian kata yang sudah saya persiapkan malam itu, tidak ada satupun yang terungkapkan. Tidak satu pun.

Malam itu, sampeyan mungkin tidak tahu. Apapun yang saya lakukan selama ini adalah upaya untuk tetap mempertahankan sampeyan. Kalaulah sampeyan merasa apa yang saya lakukan masih kurang, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. 

Malam itu, saya mau sampaikan bahwa saya tidak pernah bermain-main tentang rasa ini. Bahwa rasa ini, memang tulus untuk sampeyan. Ini journey ke Ilahi yang perlu endurance yang memerlukan pengertian.

Malam itu, kalau sampeyan masih merasa perasaan ini worth it untuk kita perjuangkan, maka kita harus sepakat dengan bahasa apa kita harus berkomunikasi. Tanpa komunikasi, sampeyan dan saya tidak akan pernah saling memahami. Dan tampaknya kita tidak ber sepakat untuk itu.

Malam itu, saya sebenarnya ingin berpamitan secara proper. Kenapa? Karena saya sudah tidak tahu lagi ke mana saya harus pulang. 😔Dan, Saya tidak tahu dengan cara apa saya harus sampaikan pamitan ini. Lha wong susah menghubunginya. Iya to? 

Akhirnya, pagi ini saya tuliskan ini untuk sampeyan. Saya pamit. ✈

Monday, January 22, 2018

Madzab Baru

Saya yakin sampeyan mesti pernah berinteraksi dengan seseorang yang menganut madzab diet makanan berdasarkan golongan darah. Efektifkah? Embuh... gak eruh 😅. Penganut paham ini berkeyakinan bahwa ada keterkaitan antara sistem pencernaan dalam tubuh dengan golongan darah yang men-supply-nya. Argumentasi-nya adalah masing-masing golongan darah akan mempunyai response yang berbeda untuk input asupan makanan yang sama struktur nutrisi-nya. Make sense khan? Iyalah... wis manut ae...


Saya mengambil contoh Protein. Dari studi yang dilakukan, ternyata source protein dari orang yang bergolongan darah A akan lebih baik jika berasal dari nabati (bukan hewani). Sebaliknya, mereka yang bergolongan darah O, sumber protein-nya akan lebih baik jika berasal dari hewani. Nah.. kalau sampeyan bergolongan darah A dan mempunyai hobby makan daging Steak, maka saya sarankan untuk segera mengatur strategi baru dalam menu makanan. Hehehehe ...kapok mu kapan... 😊😋

Sering kita tidak sadar bahwa selain air, protein adalah zat yang banyak ditemui hampir di seluruh cell di tubuh kita. Protein berfungsi sebagai source untuk repair, maintenance, transportation, storage, dan penghasil energy tubuh kita. Bahkan, Protein merupakan source untuk menghasilkan hormon dimana hormon inilah yang menjadikan media komunikasi antar organ dalam tubuh kita.

Karena terlibat dalam proses yang vital dan daily, makanya Protein ini perlu diganti secara rutin dengan cara mengkonsumsi makanan yang memang memberikan source protein. Makanan yang sesuai dengan sistem jaringan tubuh kita menjadi sangat penting. Salah satu kharakter jaringan tubuh ditentukan oleh golongan darah kita. Kurang lebih begitulah NARASI cerita pendek-nya. Kalau mau versi panjangnya silahkah berselancar di mbah Google.


Wednesday, May 17, 2017

Menuju Peradaban

Saya sangat yakin bahwa seorang yang pernah terjun langsung di lapangan, akan mampu bercerita lebih baik dan "lebih menantang" ketimbang 1000 orang ahli yang hanya berkutat dengan analisa di atas kertas saja. Siapapun mereka yang pernah bersinggungan langsung dengan stakeholder-nya, akan memberikan gambaran permasalahan yang ada menjadi lebih mudah, lebih utuh dan lebih hidup. Iya to? Itulah sunatulloh dalam bermasyarakat agar saling mengenal satu dengan yang lain. 

Makanya, kalau sampeyan menjadi seorang pejabat, maka bersiaplah untuk mengenal stakeholder sampeyan. Bersiaplah untuk menyediakan waktu dan tenaga buat mereka. Siapapun pejabat yang mampu mem-bumi dengan masyarakat, akan sangat membantu menentukan kebijakan yang tepat sasaran khususnya yang menyangkut keadilan sosial. Dengan pernah terjun ke lapangan secara langsung akan memberikan nilai lebih, ketika sampeyan harus fight untuk membela kesejahteraan rakyat bangsa ini.

Ada baiknya sampeyan sering sering berkunjung ke daerah bukan hanya sekedar melihat kemegahan airport-nya, tetapi juga untuk melihat potensi sumber daya alam yang ada secara langsung di daerah tersebut.

Ada baiknya sampeyan sering sering ikut mandi di sungai yang berkelok di negeri ini, supaya sampeyan paham sekali betapa keberadaan air bersih sangat diperlukan oleh saudara-saudara kita ini.

Thursday, May 11, 2017

Membaca Bahasa Media


Saya sudah sering sampaikan ke sampeyan semua, “Jangan terlalu percaya dengan apa yang diberitakan oleh media sosial. Keadaan yang sebenarnya bisa jadi jauh melenceng dari apa yang diberitakan. Bahkan, lebih bengis lagi, kalau isinya “sengaja” untuk mengalihkan isu yang sebenarnya terjadi.” Betul?  Bukan rahasia lagi, kalau sekarang banyak media sosial menjadikan dirinya “The Hitman”, untuk kasus-kasus tertentu sesuai pesanan. Tergantung dengan dealnya, “Wani piro?”

Kalau kita sudah tidak mampu lagi mengontrol keakuratan isi berita dari media sosial, maka yang harus kita benahi adalah sistem alarm yang terletak di nurani dan hati kita. Dua piranti itu setiap saat harus ON, untuk meyakinkan semua berita yang masuk dalam otak kita dapat tersaring dengan baik. Dua piranti yang saling cross-check. 

Mengapa ini menjadi penting? Mohon maaf, saya harus katakan bahwa masyarakat kita ini belum terlalu siap dengan teknologi Whatsapp (WA) atau sejenisnya.  “Membaca dengan seksama” bukanlah kebiasaan masyarakat kita. Budaya kita masih membaca yang leterleg apa yang tertulis, tanpa melihat “Apa sih maunya si penulis yang sebenarnya?”.


Sunday, May 07, 2017

Kedamaian Dalam Kesemrawutan

Seringkali dalam hidup ini, kenangan apik yang tersimpan dalam memori justeru terbentuk dari kejadian-kejadian yang menjengkelkan karena ketidaknyamanan, ketidaksingkronan, ketidaklogisan atau apapun namanya yang berseberangan dengan logika. Anehnya, ketika kita mengingat kejadian-kejadian tadi, malah menjadikan bibir kita merekah tersenyum karena buah kekonyolan-kekonyolan yang terjadi.

Tiga hari saya berada di India, negara yang dari sisi culture sangat dekat dengan negara kita. Kalau selama ini informasi tentang India saya dapatkan dari pilem-pilem bollywood, dengan jogetan-nya, maka kali ini saya mengalami dan melihat India dengan semua 6 panca indera yang saya punya. 


Tentu saja, pengalaman tiga hari bukanlah waktu yang cukup untuk memberikan gambaran kehidupan negara ini yang seutuhnya. Juga, pengalaman tiga hari bukan justifikasi yang valid untuk menilai apakah sebuah negara itu baik atau tidak. Ini hanya sekedar catatan kecil yang ingin saya share dengan sampeyan semua. Tidak ada niatan yang lebih dari itu.

Saturday, February 04, 2017

Lambe-mu Mas

Saya pikir saya pernah membacanya. Ternyata hanya sebagian dari cerita itu yang terbaca, selebihnya "kelewatan" membacanya. Mungkin sampeyan sama seperti saya, kelewatan juga membacanya sampai akhir cerita :-)
(Sumber: copas dari group sebelah).

Ilmu MATEMATIKA LOGIS
Jika:
A = 1. B = 2. C = 3. D = 4. E = 5. F = 6. G = 7.
H = 8. I = 9. J = 10. K = 11. L = 12. M = 13
N = 14. O = 15. P = 16. Q = 17. R = 18. S = 19
T = 20. U = 21. V = 22. W = 23. X = 24. Y = 25
Z = 26
Maka :

Sunday, January 22, 2017

Kinanti

Mobil sedan hitam itu meluncur dengan pelan dan akhirnya mengantarkan aku pas di depan gerbang Apartemen. Tidak seperti biasanya, malam ini aku melewati jalan Rasuna Said ke arah Menteng. Tidak hujan memang. Beruntung. Kalau hujan, sudah pasti akan lebih malam lagi sampai ke Apartemen. 

Inilah cerita kehidupanku yang baru. Kehidupan Metropolitan yang belum pernah aku jalani sebelumnya dalam hidupku. Dari hingar bingar kemacetan karena kebebasan jalan yang ter-amputasi, sampai dengan ritme bernafas melalui agenda meeting dari pagi hingga petang hari.

Semenjak menginjakkan kaki, Aku tahu kalau kota ini tidak mengenal kompromi. Karena bagi banyak orang, ber-kompromi itu dianggap banci, bukan lelaki sejati. 


Dari sini cerita ini berawal. Sebuah serial Babad Tanah Jawi abad Millenium. Pergolakan perjuangan abad modern tanpa menggunakan senjata, tetapi berbekal pada perang media. 

Padamu Negeri Aku Berjanji. Berawal dari hati dan nurani. Selalu berharap keduanya tidak pernah tertinggal di laci ketika pergi. (1)

Sunday, January 15, 2017

Meet My Claws

Seriously, they broke the wrong parts of me. They cut my wings and forgot I have claws. Ladies and Gents, meet my claws 



Saturday, January 07, 2017

Saling Menemukan

Saya tidak pernah menyesali atas semua yang telah terjadi antara sampeyan dan saya. Bahkan, saya tidak akan menangis untuk sesuatu yang telah berakhir. Sebaliknya, saya akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi di antara sampeyan dan saya.

Mengenal sampeyan adalah sebuah berkah yang tak ternilai harganya. Sebab jodoh tidak saling mencari tapi saling menemukan. Untuk masa lalu kita yang indah, untuk mimpi-mimpi kita yang belum tergapai, saya biarkan mengalir seperti halnya sungai kehidupan ini.....